Penelitian ini bertujuan mengungkap penggunaan deiksis sosial dalam novel Surti dan Tiga Sawunggaling karya Goenawan Mohamad. Deiksis sosial merupakan bagian dari kajian pragmatik yang mencerminkan hubungan sosial antara penutur dan lawan tutur melalui pilihan kata, seperti sapaan, kata ganti orang, serta ungkapan keakraban atau penghormatan. Dalam karya sastra, unsur ini penting karena mengungkap nilai budaya, relasi kuasa, dan struktur sosial antar tokoh. Penelitian ini menggunakan metode deskriptif kualitatif dengan pendekatan analisis wacana pragmatik. Data diperoleh melalui pembacaan mendalam terhadap novel dan identifikasi penggunaan deiksis sosial dalam dialog maupun narasi. Hasil penelitian menunjukkan bahwa Goenawan Mohamad memanfaatkan deiksis sosial tidak hanya sebagai alat komunikasi, tetapi juga sebagai sarana membentuk atmosfer cerita serta memperjelas dinamika relasi sosial. Penggunaan kata seperti “kau”, “engkau”, “aku”, atau sapaan formal tertentu menggambarkan kedekatan, jarak sosial, atau perubahan sikap antar tokoh. Bahkan pergeseran penggunaan sapaan mencerminkan perkembangan hubungan emosional dalam cerita. Temuan ini menegaskan bahwa deiksis sosial memiliki peran penting dalam menyampaikan makna naratif dan memperkaya pemahaman pembaca terhadap struktur sosial yang melatar belakangi cerita. Penelitian ini juga memberi kontribusi dalam pengembangan kajian pragmatik sastra Indonesia.
Copyrights © 2025