Generasi Z yang tumbuh di era digital sangat terhubung dengan teknologi dan media sosial, membuat mereka lebihtertarik pada konten global dibandingkan budaya lokal. Meski budaya Indonesia kaya akan nilai moral dan filosofi,pengaruh globalisasi sering membuatnya kurang diminati. Namun, sebagian Generasi Z melihat budaya Indonesiasebagai identitas yang dapat diekspresikan secara kreatif melalui media sosial. YouTube, seperti Asisi Channel,menjadi platform potensial untuk mengenalkan dan melestarikan budaya Indonesia melalui konten visual yangmenarik. Penelitian ini menganalisis penerimaan Generasi Z terhadap konten kebudayaan Indonesia di Asisi Channelmenggunakan analisis resepsi teori Stuart Hall, yang membagi penerimaan pesan menjadi tiga posisi: hegemonidominan, negosiasi, dan oposisi. Analisis dilakukan terhadap tiga video: "Negeri Dihyang 1," "Terbongkar! MisteriAsal-Usul Gajah Mada," dan "Misteri 'Bintang Daud' ala Jawa Kuno," berdasarkan tujuh unsur budaya Indonesia:bahasa, pengetahuan, sistem keluarga dan sosial, teknologi, sistem ekonomi, kepercayaan, dan seni. Hasilmenunjukkan mayoritas Generasi Z berada dalam posisi hegemoni dominan (90%), dengan 59, 54, dan 58 posisidominan pada masing-masing video. Kesimpulannya, YouTube terbukti menjadi media yang efektif untukmenyampaikan informasi budaya kepada Generasi Z, dikarenakan penerima Generasi Z terhadap kebudayaanIndonesia memasuki 90% penerimaan dalam posisi hagemoni dominan, penerimaan dapat dipengaruhi dari latarbelakang budaya, literasi, dan pendidikan. Kata Kunci: analisis resepsi, generasi z, kebudayaan Indonesia, YouTube, Asisi Channel
Copyrights © 2025