Penelitian ini menganalisis mekanisme cancel culture dalam gerakan #StopToxic di platform Twitter, dengan fokus pada transformasi kritik sosial menjadi isolasi digital. Studi ini berangkat dari fenomena komunikasi beracun (toxic communication) yang kerap memicu kritik kolektif dalam ekosistem media sosial. Dengan menggunakan pendekatan kualitatif berbasis etnografi virtual dan kerangka teori Ekologi Media Marshall McLuhan, penelitian ini mengungkap bagaimana fitur-fitur Twitter, seperti retweet, trending topic, dan algoritma berbasis viralitas, mempercepat intensitas dan skala kritik. Cancel culture dalam gerakan #StopToxic awalnya bertujuan untuk mempromosikan tanggung jawab sosial, namun sering kali berubah menjadi isolasi digital yang sistematis, menghilangkan ruang rehabilitasi bagi individu yang menjadi target. Temuan menunjukkan bahwa karakteristik Twitter sebagai medium panas (hot medium) memediasi kritik sosial dengan memperbesar respons emosional dibandingkan refleksi kritis. Proses ini menciptakan dinamika polarisasi, penghukuman massal, dan homogenisasi opini dalam ruang digital. Penelitian ini menegaskan bahwa cancel culture tidak hanya berfungsi sebagai alat kritik, tetapi juga sebagai instrumen eksklusi yang memperkuat tekanan sosial di lingkungan daring. Implikasi penelitian ini relevan untuk memahami dampak sosial dan psikologis dari cancel culture serta merancang intervensi untuk menciptakan ruang digital yang lebih sehat dan inklusif.
Copyrights © 2024