Penelitian ini mengkaji representasi kritik sosial dalam meme penjual es teh yang muncul sebagai respons atas pernyataan kontroversial Gus Miftah. Dengan pendekatan kualitatif dan teori semiotika Roland Barthes, penelitian ini menganalisis makna denotasi, konotasi, dan mitos dalam meme. Meme-meme tersebut tidak hanya berfungsi sebagai media humor, tetapi juga sebagai alat kritik sosial terhadap ketimpangan kekuasaan dan penyalahgunaan otoritas verbal di ruang publik. Denotasi merepresentasikan elemen visual seperti gambar penjual es teh dan teks satir, sedangkan konotasi memunculkan narasi ketidakadilan serta eksploitasi verbal terhadap kelompok lemah. Mitos dalam meme ini mengkritik arogansi dan penyalahgunaan kekuasaan, sekaligus menyerukan penghormatan dan perilaku etis, terutama dari figur publik yang memiliki tanggung jawab moral. Respons netizen melalui komentar memperkuat kritik dengan menyoroti tindakan Gus Miftah sebagai kekerasan verbal, perundungan, dan penghinaan. Penelitian ini menunjukkan bahwa meme dapat menciptakan ruang kritik sosial yang efektif di era digital, mencerminkan tuntutan masyarakat terhadap keadilan dan akuntabilitas moral.
Copyrights © 2025