Kenakalan remaja di era digital mengalami transformasi signifikan, tidak lagi hanya berbentuk perilaku menyimpang secara fisik, tetapi juga muncul dalam bentuk kenakalan digital seperti perundungan siber, ujaran kebencian, penyebaran hoaks, hingga konten tidak senonoh. Fenomena ini mencerminkan adanya ketegangan antara kebebasan berekspresi yang dijamin dalam masyarakat demokratis dan krisis moral yang kian mengkhawatirkan. Artikel ini menggunakan pendekatan kualitatif deskriptif dengan teknik pengumpulan data berupa telaah pustaka dan observasi media sosial untuk menganalisis faktor-faktor penyebab kenakalan remaja digital. Hasil analisis menunjukkan bahwa kebebasan yang tidak diimbangi dengan literasi digital dan nilai-nilai moral berkontribusi pada meningkatnya perilaku menyimpang remaja. Faktor internal seperti pencarian identitas diri dan dorongan eksistensi, serta faktor eksternal seperti pengaruh teman sebaya, lemahnya kontrol orang tua, dan algoritma media sosial yang permisif, menjadi pemicu utama. Dalam konteks ini, keluarga, sekolah, dan masyarakat memiliki peran strategis untuk menanamkan nilai moral dan membangun kesadaran digital yang sehat. Kolaborasi multi-pihak diperlukan guna menciptakan ruang digital yang aman, etis, dan mendidik bagi generasi muda
Copyrights © 2025