Studi ini dilakukan dengan tujuan menganalisis proses pemikiran matematika di salah satu sekolah menengah Kabupaten Bekasi dari siswa kelas 8 dengan pendekatan penelitian deskriptif. Studi ini dilakukan pada teori Mason, dengan penjelasan tentang proses pemikiran matematika siswa ketika siswa memecahkan masalah dengan SLD yang melibatkan masalah kehidupan nyata. Dalam klasifikasi, peralatan uji digunakan dalam bentuk masalah yang mencakup indikator proses berpikir matematika yang diangkat oleh tukang batu, termasuk 1) Specializing (sentralisasi), 2) generalisasi (strategi rekonsiliasi), 3) Conjecturing (4) Convicing (bukti). Dari hingga 30 siswa dalam sampel studi, ada hingga empat siswa, dengan 26,7% persentase dari kategori yang lebih tinggi, persentase 60% dari kategori tengah, dan persentase 13,3% dari kategori yang lebih rendah. Temuan dan diskusi menunjukkan bahwa siswa dalam kategori tinggi, menengah dan rendah berbeda dalam proses berpikir matematika. Siswa dengan kategori yang lebih tinggi dapat berhasil memenuhi empat indikator, tetapi empat indikator belum memenuhi kategori menengah dan rendah. Siswa dengan keterampilan berpikir matematika yang sangat baik sebenarnya dapat menyelesaikan semua masalah matematika.
Copyrights © 2025