Penelitian ini bertujuan mendeskripsikan representasi makna umpasa dalam upacara kematian Sayur Matua masyarakat Batak Simalungun. Umpasa, sebagai puisi lisan tradisional, berfungsi menyampaikan nilai moral, spiritual, dan sosial dalam ritus adat. Penelitian menggunakan pendekatan kualitatif deskriptif dengan analisis semiotika Ferdinand de Saussure dan teori representasi Stuart Hall. Data diperoleh melalui observasi, wawancara, studi pustaka, dan dokumentasi. Hasil menunjukkan bahwa umpasa memiliki makna denotatif dan konotatif yang membentuk konstruksi budaya terkait kematian dan relasi sosial. Simbol seperti tiang rumah, daun gugur, dan gondrang mengandung nilai penghormatan, persatuan, serta harapan akan regenerasi nilai leluhur. Dalam kerangka Hall, makna umpasa dikonstruksi melalui praktik simbolik, bukan sekadar refleksi realitas. Oleh karena itu, umpasa dipandang sebagai alat representasi budaya yang menghubungkan tradisi dengan struktur sosial. Penelitian ini merekomendasikan pelestarian umpasa sebagai warisan budaya takbenda.
Copyrights © 2025