Penelitian ini menganalisis tahapan proses kebijakan Kurikulum Merdeka di Indonesia menggunakan model William Dunn. Sebagai reformasi pendidikan terbaru, Kurikulum Merdeka memberikan tekanan pembelajaran yang fleksibel dan berpusat pada peserta didik untuk membangun karakter serta kompetensi yang relevan dengan abad ke-21. Penelitian kualitatif ini menggunakan analisis dokumen, wawancara, dan observasi dengan melibatkan pemangku kepentingan seperti pembuat kebijakan, kepala sekolah, guru, dan peserta didik. Analisis data dilakukan melalui pengkodean tematik dan triangulasi, mengacu pada tahapan model William Dunn (identifikasi masalah, formulasi, implementasi, dan evaluasi), untuk memastikan validitas dan kedalaman temuan. Hasil penelitian menunjukkan bahwa proses kebijakan mencakup empat tahap utama: (1) mengidentifikasi keterbatasan kurikulum sebelumnya dan tuntutan globalisasi, (2) merancang solusi berbasis nilai Pancasila dan keterampilan abad ke-21, (3) mengimplementasikan pelatihan guru dan pengembangan sumber daya, serta (4) mentransmisikan hasil pembelajaran dan dampak sistemik. Tantangan utama meliputi disparitas sumber daya antarwilayah, kesiapan guru yang tidak merata, dan kesenjangan infrastruktur. Di sisi lain, kurikulum ini menawarkan peluang inovasi melalui pembelajaran berbasis proyek dan otonomi sekolah. Temuan penelitian menekankan pentingnya pelatihan guru berkelanjutan, pemerataan sumber daya, dan kolaborasi multistakeholder guna mengoptimalkan implementasi Kurikulum Merdeka.
Copyrights © 2025