Historical tourism is an architectural phenomenon that plays an important role in cultural preservation. One place with historical value in Jakarta is the Sunda Kelapa Area. This area is located in a strategic location because it has easy access to the location using public transportation. However, this does not promise many visitors to come, because historical tourism in Jakarta has decreased in the last three years. The decrease in the number of visitors is caused by several factors, such as the lack of attention to the Sunda Kelapa Area itself, resulting in many buildings that are now abandoned and unkempt, in other words, the Sunda Kelapa Area is experiencing physical and social degradation. Therefore, the development of functions and programs in the Sunda Kelapa Area is needed to revive the sense of place. The methods used in this study are qualitative and observation methods. The research steps begin with conducting a study related to the Sunda Kelapa Area in the last five years, followed by field observations to obtain data related to the current condition of historical buildings and activities carried out by the surrounding community, then continued with mapping related to the location points of historical buildings and activities that are currently taking place. From the data obtained, there is a relationship between the surrounding environment and the creation of programs within the site, the program includes religious tourism and coastal tourism which have contradictory characteristics, so a program is needed that can combine the two programs. The trans-programming approach is a method that aims to combine and connect different programs in a building. This approach can produce a novelty in the area so the building to be designed can live in contemporaneity. Keywords: Degradation; History; Identity; Space Abstrak Wisata bersejarah merupakan fenomena arsitektur yang mempunyai peran penting dalam pelestarian budaya. Salah satu tempat yang memiliki nilai sejarah di Jakarta adalah Kawasan Sunda Kelapa. Kawasan ini terletak di lokasi yang strategis, karena memiliki kemudahan dalam mengakses lokasi dengan menggunakan transportasi umum. Namun, hal ini tidak menjanjikan banyaknya jumlah pengunjung yang akan datang, karena wisata bersejarah di Jakarta mengalami penurunan dalam tiga tahun terakhir. Penurunan jumlah pengunjung ini disebabkan oleh beberapa faktor, seperti kurangnya perhatian terhadap Kawasan Sunda Kelapa itu sendiri, sehingga menyebabkan banyaknya bangunan yang sekarang sudah terbengkalai dan tidak terurus, dengan kata lain Kawasan Sunda Kelapa mengalami degradasi secara fisik maupun sosial. Oleh karena itu pengembangan fungsi dan program pada Kawasan Sunda Kelapa diperlukan untuk menghidupkan kembali sense of place. Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah metode kualitatif dan observasi. Langkah penelitian dimulai dari melakukan kajian terkait Kawasan Sunda Kelapa dalam kurun waktu lima tahun terakhir, dilanjutkan dengan observasi ke lapangan untuk mendapatkan data terkait kondisi bangunan bersejarah pada saat ini dan aktivitas yang dilakukan oleh masyarakat sekitar, kemudian dilanjutkan dengan pembuatan mapping terkait titik lokasi lokasi bangunan bersejarah dan aktivitas yang sedang terjadi. Dari data yang diperoleh terdapat keterkaitan lingkungan sekitar terhadap pembuatan program di dalam tapak, program tersebut meliputi wisata religi dan wisata pesisir yang memiliki sifat saling bertolakbelakang, sehingga diperlukan sebuah program yang dapat menggabungkan kedua program tersebut. Pendekatan trans-programming merupakan suatu metode yang bertujuan untuk menggabungkan dan menghubungkan program-program yang berbeda pada suatu bangunan. Pendekatan ini dapat menghasilkan suatu kebaruan pada kawasan, sehingga bangunan yang akan dirancang dapat hidup dalam kesejamanan.
Copyrights © 2025