Artikel ini mengkaji warisan pemikiran pendidikan Ki Hajar Dewantara dan implementasinya melalui Perguruan Taman Siswa, khususnya cabang Cepu, Kabupaten Blora. Pendidikan pada masa kolonial diwarnai diskriminasi dan ketimpangan akses, sehingga mendorong lahirnya Taman Siswa sebagai bentuk perlawanan intelektual terhadap sistem pendidikan kolonial yang elitis. Taman Siswa mempelopori sistem pendidikan Among yang menempatkan peserta didik sebagai pusat proses pembelajaran, dengan prinsip memerdekakan pikiran, perasaan, dan tenaga. Dengan menggunakan metode penelitian pustaka, artikel ini menelusuri perkembangan historis pendirian dan dinamika Taman Siswa, mulai dari tingkat nasional hingga lokal di Cepu. Hasil kajian menunjukkan bahwa meskipun Taman Siswa Cepu tidak sebesar cabang lainnya, ia tetap menjadi bagian penting dalam penyebaran nilai-nilai nasionalisme melalui pendidikan. Namun, tantangan zaman dan kurangnya dukungan kelembagaan membuat keberadaannya kini semakin terpinggirkan.
Copyrights © 2025