Penelitian ini bertujuan untuk mengkaji dilema mahasiswa dalam menyampaikan keinginan kepada orang tua, khususnya dalam konteks konflik double approach-avoidance dan gaya penyelesaian konflik dalam hubungan keluarga. Menggunakan pendekatan kualitatif, data diperoleh melalui wawancara mendalam terhadap tiga mahasiswa dari latar belakang studi berbeda. Hasil menunjukkan bahwa semua partisipan mengalami konflik batin karena setiap pilihan mengutarakan atau memendam keinginan menimbulkan konsekuensi emosional maupun relasional. Gaya penyelesaian konflik yang diidentifikasi meliputi turtle (menghindar), fox (kompromi), dan owl (kolaborasi). Mahasiswa yang menggunakan pendekatan kolaboratif cenderung memiliki relasi keluarga yang lebih terbuka dan sehat, sementara gaya menghindar dan kompromi berpotensi menimbulkan tekanan psikologis. Temuan ini menekankan pentingnya komunikasi empatik dan kesediaan untuk berunding dalam mengurangi konflik keluarga serta menjaga kesejahteraan emosional mahasiswa.
Copyrights © 2025