ABSTRAKInsomnia merupakan gangguan tidur yang memiliki prevalensi tinggi pada populasi lanjut usia dan berdampak pada penurunan fungsi fisik, kognitif, serta kualitas hidup secara keseluruhan. Penanganan insomnia melalui pendekatan farmakologis sering kali menimbulkan efek samping, sehingga intervensi nonfarmakologis seperti terapi relaksasi otot progresif menjadi alternatif yang lebih aman dan efektif. Terapi ini berfokus pada proses sistematis mengencangkan dan melemaskan kelompok otot tertentu untuk menginduksi relaksasi menyeluruh dan meningkatkan kualitas tidur. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh terapi relaksasi otot progresif terhadap tingkat insomnia pada lansia di wilayah kerja Puskesmas Jepang, Kabupaten Kudus. Penelitian menggunakan desain pra-eksperimental dengan pendekatan One Group Pretest-Posttest Design. Sampel penelitian berjumlah 25 responden lansia yang dipilih menggunakan teknik purposive sampling. Intervensi berupa terapi relaksasi otot progresif diberikan selama lima sesi berturut-turut dalam satu minggu, dengan durasi 10–15 menit per sesi. Pengukuran tingkat insomnia dilakukan sebelum dan sesudah intervensi menggunakan kuesioner Insomnia Rating Scale (IRS). Hasil penelitian menunjukkan mayoritas responden berjenis kelamin perempuan (88%) dan kelompok usia terbanyak berada pada rentang 70–79 tahun. Sebelum intervensi, mayoritas responden mengalami insomnia sedang (76%) dan berat (8%). Setelah intervensi, sebagian besar responden mengalami insomnia ringan (80%) atau tidak mengalami insomnia (16%). Hasil uji Wilcoxon Signed Rank Test menunjukkan nilai Z sebesar -4,380? dengan p-value 0,000 (p < 0,05). Kesimpulan dari penelitian ini adalah bahwa terapi relaksasi otot progresif berpengaruh secara signifikan dalam menurunkan tingkat insomnia pada lansia di wilayah kerja Puskesmas Jepang Kabupaten Kudus. Kata Kunci: Lansia, Terapi relaksasi otot progresif, Insomnia.
Copyrights © 2025