Politik afirmasi terhadap keterlibatan perempuan dalam kontestasi elektoral sejak reformasibelum sepenuhnya berdampak signifikan dalam meningkatkan keterpilihan perempuan. Halini disebabkan oleh, salah satunya, adalah perspektif budaya lokal yang cenderungmemarjinalkan perempuan. Studi ini bertujuan untuk menjelaskan tantangan budaya Ata Onedan Ata Peang terhadap partisipasi politik perempuan pada pemilu legilatif di KabupatenManggarai Timur di Nusa Tenggara Timur. Dengan menggunakan pendekatan kualitif,penelitian ini menemukan beberapa hal penting. Pertama, calon legislatif perempuan tidakterpilih karena perspektif budaya lokal Ata One dan Ata Peang yang membatasi ruang gerakperempuan di ranah publik. Kedua, proses kaderisasi dan rekrutmen politik terhadapperempuan di partai politik hanya dilakukan menjelang kontestasi elektoral. Kedua haltersebut menyebabkan mayoritas legislatif dikuasai oleh laki-laki yang berdampak pada prosespengambilan kebijakan yang bias gender.
Copyrights © 2023