Di Yogyakarta, seniman menunjukkan bentuk kemandirian yang berbeda dibandingkan dengan rekan-rekan mereka di kota-kota Indonesia lainnya, terutama melalui penyelenggaraan berbagai pameran seni independen. Kemandirian berbasis kolektif ini mendefinisikan seniman Yogyakarta sebagai individu dalam komunitas seni yang lebih besar. Penelitian ini bertujuan untuk memahami dinamika interaksi simbolik medan seni rupa Yogyakarta, menguraikan pola interaksi pelaku seni serta menganalisis asal-usul kolektif dari kemandirian seniman. Penelitian ini menggunakan metode kualitatif dengan pendekatan teori interaksi simbolik, melibatkan wawancara mendalam, dan studi dokumen sebagai teknik pengumpulan data. Analisis pola interaksi mengungkap bahwa kemandirian seniman Yogyakarta berkembang melalui hubungan simbolik yang berkelanjutan, terlihat dalam berkembangnya ruang-ruang seni yang dikelola secara kolektif. Studi ini mengungkap bahwa kemandirian ini berkembang melalui interaksi simbolik yang berkelanjutan di antara para seniman, yang terbukti dalam menjamurnya ruang-ruang yang dikelola seniman di seluruh Yogyakarta.
Copyrights © 2025