Artikel ini membahas tentang budaya gastronomi tradisional di Indonesia, khususnya di kota Solo, sebagai refleksi dari identitas pascakolonial yang kompleks. Gastronomi di Indonesia tidak hanya mencakup makanan, tetapi juga sistem pengetahuan yang mencerminkan sejarah dan kearifan lokal. Pengaruh kolonialisme, terutama dari Belanda, telah membentuk cara masyarakat Solo dalam mengolah dan menyajikan makanan, menciptakan hidangan-hidangan yang menunjukkan hibriditas antara tradisi lokal dan pengaruh asing. Melalui pendekatan deskriptif kualitatif, artikel ini ingin mengeksplorasi bagaimana kuliner-kuliner yang ada di Solo berfungsi sebagai alat perlawanan terhadap kolonialisme dan sebagai ekspresi identitas budaya. Hidangan seperti Selat Solo dan Tengkleng mencerminkan adaptasi dan inovasi kuliner yang muncul dari kondisi sosial dan ekonomi yang sulit. Selain itu, artikel ini juga ingin menyoroti pentingnya kuliner sebagai simbol ketahanan budaya dan alat pemberdayaan ekonomi di era pascakolonial. Dengan melestarikan makanan tradisional, masyarakat Solo tidak hanya melestarikan warisan budaya mereka tetapi juga membangun masa depan yang lebih inklusif dan berkelanjutan.
Copyrights © 2025