Berdasarkan data, satu dari tiga remaja di Indonesia menghadapi masalah kesehatan mental, dengan remaja dari keluarga broken home mengalami tekanan emosional yang lebih besar akibat konflik keluarga dan kurangnya dukungan emosional. Terapi seni diharapkan dapat menjadi intervensi non-farmakologi yang efektif untuk membantu remaja mengekspresikan perasaan yang terpendam dan mengatasi masalah emosi mereka. Penelitian ini bertujuan untuk mengekplorasi efektivitas terapi seni (art therapy) sebagai teknik katarsis dalam mengurangi stres dan kecemasan pada remaja yang mengalami broken home. Metode penelitian yang digunakan adalah pendekatan kuantitatif dengan desain eksperimen, melibatkan 10 remaja dengan 2 laki-laki dan 8 perempuan berusia 17-22 tahun yang tinggal dalam kondisi broken home yang tinggal di daerah Jalan Pendidikan Mataram. Partisipasi dalam sesi terapi seni dilakukan sebanyak dua kali dalam seminggu selama 60-90 menit per sesi dengan konseling kelompok. Efektivitas terapi diukur melalui perubahan skor pada Depression, Anxiety, and Stress Scale (DASS-42) sebelum dan setelah intervensi. Hasil penelitian secara keseluruhan menunjukkan bahwa art therapy secara signifikan mengurangi stres dan kecemasan pada remaja yang terlibat. Hasil uji-t menunjukkan bahwa terdapat perbedaan signifikan antara nilai pretest dan posttest, dengan nilai t-hitung 11.434 lebih besar dari nilai t-tabel sebesar 2,262. Dengan demikian dapat disimpulkan bahwa Ha dapat diterima dan Ho ditolak, artinya art therapy efektif mengurangi stres dan kecemasan pada remaja broken home.
Copyrights © 2025