Woke Culture and Cancel Culture present new ethical challenges in the digital society, including within Christian Religious Education in Indonesia. The resulting social fragmentation—driven by confrontational justice narratives—demands a more dialogical and solidaristic curriculum. This study employs a constructive-theological approach to formulate a responsive model of Christian Religious Education curriculum, grounded in Rebecca Todd Peters’ Christian ethic of solidarity. Her framework rejects individualistic morality and symbolic violence, emphasizing the cultivation of dialogical spaces (brave spaces), solidarity with the marginalized, and the integration of orthodoxy, orthopathy, and orthopraxy. The findings reveal that a solidaristic and contextual curriculum can form learners into agents of justice who are compassionate, critically engaged, and dialogically capable in pluralistic societies. Such a curriculum functions not merely as doctrinal instruction, but as a transformative space of faith formation, relevant both theologically and ethically. Abstrak Woke Culture dan Cancel Culture menghadirkan tantangan etis baru dalam masyarakat digital, termasuk dalam pendidikan agama Kristen di Indonesia. Fragmentasi sosial yang diakibatkan oleh nilai-nilai keadilan yang konfrontatif menuntut kurikulum yang lebih dialogis dan solider. Penelitian ini menggunakan pendekatan konstruktif-teologis untuk merumuskan model kurikulum Pendidikan Agama Kristen yang responsif ter-hadap tantangan era woke, dengan menjadikan etika solidaritas Kristen dari Rebecca Todd Peters sebagai fondasi utama. Etika ini menolak mora-litas individualistik dan kekerasan simbolik, serta menekankan pembentukan ruang dialogis (brave space), keberpihakan pada yang tertindas, dan integrasi antara ortodoksi, ortopati, dan ortopraksis. Hasil penelitian menunjukkan bahwa kurikulum yang solider dan kontekstual dapat mem-bentuk peserta didik menjadi agen keadilan yang penuh kasih, kritis terhadap ketidakadilan, dan mampu berdialog dalam masyarakat plural. Kurikulum ini menjadi sarana formasi iman yang relevan, tidak hanya secara doktrinal, tetapi juga secara sosial dan etis.
Copyrights © 2024