Disfungsi epitel saluran napas merupakan salah satu faktor utama dalam patogenesis asma, yang ditandai dengan penurunan ketebalan epitel, hiperproduksi mukus, gangguan tight junction, serta penurunan aktivitas silia. Gangguan ini memperburuk inflamasi dan meningkatkan permeabilitas saluran napas terhadap alergen dan polutan. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis disfungsi epitel saluran napas pada pasien asma serta mengevaluasi efektivitas berbagai terapi dalam memperbaiki kerusakan epitel. Penelitian ini menggunakan desain observasional dengan membandingkan 50 pasien asma dan 20 individu sehat sebagai kontrol. Pemeriksaan histologi dan analisis molekuler dilakukan untuk mengevaluasi perubahan epitel dan kadar sitokin inflamasi. Uji klinis dilakukan untuk menilai efektivitas tiga terapi: kortikosteroid inhalasi, antibodi monoklonal anti-IL-4/IL-13, dan terapi berbasis sel punca epitel. Pasien asma mengalami penurunan ketebalan epitel, peningkatan produksi mukus, dan gangguan tight junction yang signifikan (p 0,05). Kadar IL-4, IL-13, dan TNF-α meningkat secara signifikan dibandingkan kelompok kontrol. Terapi berbasis sel punca menunjukkan efektivitas tertinggi dalam memperbaiki fungsi epitel dibandingkan kortikosteroid dan terapi antibodi monoklonal. Disfungsi epitel saluran napas pada asma berhubungan erat dengan inflamasi kronis yang dimediasi oleh IL-4, IL-13, dan TNF-α. Terapi berbasis sel punca memiliki potensi besar dalam memperbaiki disfungsi epitel dan dapat menjadi pendekatan inovatif dalam pengobatan asma di masa depan.
Copyrights © 2025