Penelitian ini membahas bagaimana mahasiswa berperan dalammencegah korupsi, baik di lingkungan kampus maupun di masyarakat. Penelitian ini menggunakan metode kualitatif dengan pendekatan deskriptif-analitis, di mana data dikumpulkan melalui wawancara dengan seorang mahasiswa. Selain itu, referensi dari jurnal ilmiah digunakan untuk memperkuat analisis. Hasil penelitian menunjukkan bahwa meskipun mahasiswa sudah memahami bahwa korupsi adalah masalah besar, masih ada sikappermisif terhadap tindakan kecil yang bersifat koruptif, seperti menyontek dan titip absen. Jika terus dibiarkan, kebiasaan ini dapat terbawa ke dunia kerja dan kehidupan sosial, yang padaakhirnya memperkuat budaya koruptif. Wawancara dengan Dwi Arum Astuti, mahasiswa Universitas Lampung, mengungkapkan bahwa banyak mahasiswa yang masih menganggap korupsi hanya terjadi di kalangan pejabat negara, padahal ketidakjujuranakademik juga dapat menjadi cikal bakal budaya korupsi. Selain itu, pendidikan antikorupsi di perguruan tinggi masih lebih banyak teori dibanding praktik nyata. Oleh karena itu, perlu adanya pendekatan yang lebih kuat dalam pendidikan antikorupsi dan keterlibatan mahasiswa dalam gerakan sosial. Dengan pendekatan yang lebih interaktif dan berbasis pengalaman,mahasiswa dapat lebih efektif dalam membangun budaya antikorupsi di lingkungan akademik dan masyarakat.
Copyrights © 2025