Industri tekstil Indonesia memiliki potensi besar dalam ekspor ke pasar Jepang, namun pemanfaatan kerja sama perdagangan yang difasilitasi oleh APEC masih belum optimal. Meskipun APEC menawarkan kebijakan perdagangan yang terbuka dan bebas hambatan, pelaku industri tekstil Indonesia masih terbatas dalam memanfaatkan fasilitas tersebut. Beberapa faktor yang menghambat adalah kurangnya pemahaman terhadap kebijakan teknis APEC, serta tantangan persaingan yang semakin ketat dengan negara-negara seperti Vietnam, China, dan Bangladesh. Negara-negara tersebut lebih agresif dalam memasarkan produk tekstil mereka ke Jepang dengan dukungan efisiensi produksi, teknologi tinggi, dan kemitraan dagang bilateral yang lebih kuat. Pasar Jepang sangat selektif terhadap kualitas dan tren fashion yang terus berubah, sehingga banyak pelaku industri Indonesia yang kesulitan memenuhi standar yang diharapkan. Hambatan non-tarif seperti sertifikasi teknis, regulasi lingkungan, dan standar keamanan produk juga menjadi tantangan, terutama bagi UMKM yang ingin menembus pasar Jepang. Promosi dan branding produk tekstil Indonesia di Jepang masih sangat terbatas, sehingga menyebabkan produk Indonesia kurang dikenal luas. Diperlukan sinergi yang lebih erat antara pemerintah dan industri, dengan fokus pada peningkatan kapasitas produksi, kualitas produk, dan promosi yang lebih intensif. Pemerintah juga harus memperkuat diplomasi ekonomi dan memfasilitasi kolaborasi riset dan pelatihan untuk meningkatkan daya saing. APEC, meskipun bukan regulator, dapat berperan sebagai fasilitator dalam mendorong kerja sama yang lebih produktif.
Copyrights © 2025