Rasa malu (al-haya) dalam Islam bukan sekadar reaksi emosional, tetapi merupakan ekspresi keimanan yang mendalam dan refleksi dari kesadaran moral serta kontrol diri. Penelitian ini bertujuan untuk mengkaji hubungan antara rasa malu dan keimanan dalam Islam dengan fokus pada hadis-hadis Nabi Muhammad SAW yang menyandingkan keduanya. Permasalahan utama dalam studi ini adalah melemahnya rasa malu di era modern akibat pengaruh globalisasi dan kemerosotan nilai-nilai sosial, yang berdampak pada krisis moral, khususnya di kalangan generasi muda. Metode yang digunakan adalah studi kepustakaan dengan pendekatan kualitatif, yaitu analisis terhadap hadis-hadis sahih serta pemikiran para ulama dan tokoh psikologi Islam seperti Imam an-Nawawi, Quraish Shihab, Zakiah Daradjat, dan Yusuf Qardhawi. Hasil kajian menunjukkan bahwa rasa malu merupakan indikator aktif dari keimanan yang berfungsi sebagai mekanisme pengendali moral dan spiritual. Hilangnya rasa malu menandakan melemahnya iman, sedangkan keberadaannya memperkuat ketakwaan dan etika sosial. Dalam konteks kehidupan modern, rasa malu memiliki peran strategis dalam menjaga integritas individu dan kolektivitas masyarakat. Oleh karena itu, penguatan rasa malu sebagai bagian dari iman perlu menjadi perhatian dalam pendidikan dan pembinaan karakter umat Islam.
Copyrights © 2025