Penelitian ini bertujuan untuk mendeskripsikan bagaimana pendidikan kewarganegaraan multikultural dapat menjadi instrumen strategis untuk menumbuhkan kewarganegaraan yang inklusif dan memperkuat harmoni sosial. Dengan menggunakan pendekatan studi kasus kualitatif, data dikumpulkan melalui wawancara mendalam, observasi partisipatif, analisis dokumen kurikulum, dan diskusi kelompok terarah dengan guru, siswa, dan tokoh masyarakat di lima sekolah dasar. Temuan-temuan yang diperoleh menunjukkan adanya kesenjangan yang signifikan antara kebijakan kurikulum nasional dan implementasi di kelas, terutama karena kurangnya responsifitas budaya dan bahan ajar yang kontekstual. Meskipun demikian, beberapa praktik inovatif, seperti mendongeng yang berakar pada budaya, keterlibatan masyarakat, dan integrasi bahasa lokal, ditemukan dapat meningkatkan keterlibatan siswa dan toleransi antar etnis. Penelitian ini mengusulkan Model HARMONI, sebagai kerangka kerja pendidikan kewarganegaraan yang responsif budaya. Implementasi model ini menghasilkan peningkatan yang terukur dalam pengetahuan, keterampilan, dan watak kewarganegaraan, sekaligus mempromosikan kohesi sosial dan menegaskan identitas ganda siswa sebagai orang Papua dan Indonesia. Hasil ini menggarisbawahi pentingnya merancang pendidikan kewarganegaraan yang integratif secara nasional dan relevan secara lokal, terutama di daerah perbatasan yang memiliki budaya yang kompleks.
Copyrights © 2025