Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis bagaimana framing netizen di platform X terhadap Program Makan Bergizi Gratis (MBG) jika dibandingkan dengan pandangan siswa sebagai penerima manfaat langsung. Pendekatan yang digunakan adalah kualitatif, dengan metode analisis framing model Pan dan Kosicki untuk menelaah 50 unggahan netizen terkait program MBG, serta wawancara mendalam dengan 12 siswa penerima program sebagai pembanding. Hasil penelitian menunjukkan bahwa netizen cenderung memframing program MBG secara negatif, dengan narasi bahwa program ini membebani anggaran negara, menguntungkan pihak ketiga, kurang efisien dibanding bantuan tunai, serta menyajikan makanan yang dianggap tidak memenuhi standar gizi. Sebaliknya, wawancara dengan siswa menunjukkan respons yang lebih positif; sebagian besar merasa terbantu secara ekonomi dan mengapresiasi keberadaan program ini, meskipun mengemukakan beberapa catatan terhadap kualitas makanan dan aspek teknis pelaksanaan. Ketidaksesuaian antara opini netizen dan pengalaman langsung siswa mengindikasikan adanya gap persepsi antara ruang digital dan realitas di lapangan. Temuan ini menegaskan pentingnya pengelolaan komunikasi publik yang berbasis data, pengalaman, dan keterlibatan audiens agar kebijakan sosial seperti MBG dapat dipahami secara lebih utuh dan proporsional. This study aims to analyze how netizens on platform X frame the Free Nutritious Meal Program (MBG) compared to the views of students as direct beneficiaries. The approach used is qualitative, using the Pan and Kosicki framing analysis model to examine 50 netizen posts related to the MBG program, as well as in-depth interviews with 12 student recipients of the program as a comparison. The results of the study show that netizens tend to frame the MBG program negatively, with the narrative that this program burdens the state budget, benefits third parties, is less efficient than cash assistance, and serves food that is considered not to meet nutritional standards. In contrast, interviews with students showed a more positive response; most felt economically helped and appreciated the existence of this program, although they expressed some notes on the quality of the food and technical aspects of the implementation. The discrepancy between netizens' opinions and students' direct experiences indicates a perception gap between digital space and reality on the ground. These findings emphasize the importance of managing public communication based on data, experience, and audience involvement so that social policies such as MBG can be understood more completely and proportionally.
Copyrights © 2025