Salah satu masalah kulit yang sering ditemui adalah hiperpigmentasi yang terjadi akibat adanya sintesis melanin berlebihan. Hiperpigmentasi dapat diatasi dengan agen anti hiperpigmentasi yang berguna dalam menghambat aktivitas enzim tirosinase yang berperan dalam mengkatalisis proses biosintesis melanin. Kulit kayu bangkal (Nauclea subdita) dipercaya memiliki agen anti hiperpigmentasi karena sering digunakan sebagai bedak dingin oleh masyarakat Kalimantan. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui potensi senyawa aktif ekstrak kulit kayu bangkal dalam menghambat enzim tirosinase yang akan dibandingkan dengan ligan alami dan ligan pembandingnya secara in silico. Uji in silico dilakukan secara penambatan molekuler dengan tahapan yaitu preparasi ligan, optimasi tirosinase serta validasi dan penambatan. Metode penambatan molekuler telah dinyatakan valid karena RMSD yang diperoleh < 2 Å. Hasil yang diperoleh menunjukkan bahwa terdapat beberapa senyawa yang menunjukkan penghambatan terhadap enzim tirosinase ditandai dengan rendahnya nilai energi bebas (-?G) salah satunya adalah Urolithin B 3-O-glucuronide dengan energi sebesar -8,81 kcal/mol. Hasil jenis ikatan yang terjadi dalam penelitian didapatkan semua senyawa uji dapat berinteraksi dengan bagian sisi aktif enzim tirosinase dengan jumlah interaksi berkisar antara satu sampai empat dan dalam bentuk ikatan hidrogen. Kesimpulan senyawa aktif ekstrak kulit kayu bangkal dapat dijadikan salah satu alternatif antihiperpigmentasi.
Copyrights © 2025