Dewasa ini, pesantren tentu diuji oleh keilmuan yang marak dan beragam, yang mampu mengganggu keseimbangsan keilmuan pesantren yang memiliki ciri khas sejak abad ke-16, yakni kitab kuning. Namun demikian, seorang kiai sebagai pemimpin sebuah pesantren memiliki peran yang sangat sentral dalam keberlangsungan sebuah pesantren. Bagaiamana peran kiai dalam mempertahankan minat santri pada kitab kuning di tengah gelombang keilmuan modern yang semakin menarik minat para santrri yang notabene kaula muda. Penulis mengangkat penilitian komparasi yakni PP. Annuqayah daerah Lubangsa dan PP. Sumber Payung daerah Babussalam. Penulis menggunakan wawancara dan observasi untuk mengumpulkan data dengan penelitian lapangan. Adapun peran kiai di kedua pesantren untuk meningkatkan minat santri belajar kitab kuning memiliki perbedaan dan persamaan. Persamaannya adalah kedua kiai sama-sama mengampu ajian kitab yang rutin dilaksakan di pesantren. Perbedaannya adalah pesantren lubangsa lebih memberikan stimulus dengan ajakan yang tersirat sedang pesantren Babussalam memberikan ketegasan kurikulum yang harus dilewati oleh santri-santrinya yakni belajar kitab kuning menggunakan metode Nubdatul Bayan.
Copyrights © 2025