Tujuan penelitian ini adalah untuk mengungkap relasi praktik bullying siswa, struktural fungsional dan mekanisme kekuasaan poststrukturalis. Dalam pandangan struktural fungsional mengitikberatkan keseimbangan dan kesempurnaan seluruh fungsi dari sistem yang ada untuk menghindari tindakan penyimpangan. Pada banyak literatur tentang bullying diakibatkan oleh tindakan menyimpang, kemiskinan, rendah akademik, keanehan, dan lemah fisik. Namun, peneliti melihat kinerja praktik bullying tidak dapat dilihat hanya dalam pandangan umum diatas. Peneliti menawarkan cara pandang baru terhadap praktik bullying yang ada di sekolah. Praktik bullying diakibatkan adanya posisi sistem yang melanggengkan dominan antara superioritas dan subordinat. Relasi operasional biner ini terlihat dari relasi guru-siswa, siswa prestasi –tidak berprestasi, siswa kuat-lemah, siswa kela rendah-atas. Sistem yang melanggengkan praktik dominasi di sekolah ini pada akhirnya melahirkan praktik bullying. Konteks bullying tidak lagi dianggap sebagai bentuk penyimpangan dari tindakan siswa, namun sebagai bentuk ekspresi dan normalitas tindakan. Relasi antara kekuasaan dan kebenaran telah membuat nilai objektivitas tidak nyata. Praktik bullying dilegitimasi dengan bentuk kekuasaan yang kuat untuk membenarkan dalam sistem tentang relasi superior dan subordinasi. Penelitian ini menggunakan metode penelitian kualitatif dan tehnik wawancara terstruktur terhadap siswa di sekolah
Copyrights © 2025