Penelitian bertujuan untuk menganalisa tentang strategi gerilya yang diterapkan oleh Raden Intan II dalam melawan kuasa Belanda di Lampung pada 1850-1856 dengan menggunakan metode penelitian sejarah. Hasil penelitian menunjukkan bahwa strategi ini didorongoleh tiga faktor utama: pemanfaatan kondisi geografis Lampung (Gunung Rajabasa), keunggulan persenjataan Belanda, dan pembelajaran dari pengalaman para pendahulunya. Perlawanan ini berpusat di Gunung Rajabasa dengan benteng-benteng yang kokoh seperti Katimbang, Bendulu, Hawi Berak, dan Galah Sintok. Perlawanan ini berakhir akibat pengkhianatan Raden Ngarapat yang menjebak Raden Intan II untuk keluar dari daerah gerilyanya hingga kemudian dibunuh. Perlawanan Raden Intan II memberikan dampak signifikan terhadap kekuasaan Belanda di Lampung. Selama masa perlawanan Belanda tidak mampu sepenuhnya menguasai wilayah tersebut. Namun, setelah perlawanan Belanda dapat memperkokoh kekuasannya di Lampung. Bagi masyarakat Lampung kekalahan ini menandai runtuhnya kekuasaan marga dan hilangnya para pemimpin perjuangan.
Copyrights © 2024