Film horor seringkali merepresentasikan perempuan sebagai korban atau entitas yang menakutkan, yang melawan ketidakadilan. The Curse of La Llorona dan Marni: The Story of Wewe Gombel menggambarkan perempuan yang mengalami ketidakadilan sosial dan bertransformasi menjadi makhluk supranatural sebagai bentuk perlawanan. Penelitian ini mengkaji representasi perempuan dalam kedua film tersebut melalui pendekatan feminisme radikal MacKinnon untuk memahami posisi perempuan yang tidak memiliki akses keadilan dalam sistem patriarki, serta alternatif yang ditempuh di luar norma hukum. Metode yang digunakan adalah analisis deskriptif-naratif terhadap dialog yang menggambarkan motif dendam perempuan. Hasil penelitian menunjukkan bahwa La Llorona dan Marni menjadi simbol perlawanan terhadap sistem patriarki, meskipun motif dan cara keduanya berbeda. La Llorona mengalami kehilangan anak akibat pengkhianatan dan stigma sosial, yang memotivasi untuk membalas dengan menculik anak-anak lain. Di sisi lain, Marni mengalami kekerasan seksual dan penghakiman sosial, yang mengarahkannya untuk membunuh pelaku sebelum bertransformasi menjadi Wewe Gombel yang melindungi anak-anak terlantar. Perbedaan tersebut mencerminkan pengaruh mitos dan budaya dalam membentuk ekspresi perlawanan perempuan terhadap ketidakadilan gender.
Copyrights © 2025