Seperti kota-kota lain di dunia, perkembangan pembangunan di Kota Semarang sangat pesat. Pemantauan dan analisis kondisi fisik suatu wilayah sangat penting untuk dilakukan terhadap wilayah dengan tingkat dinamika yang cukup tinggi. Terjadinya pembangunan berpengaruh pada perubahan morfologi aliran permukaan dan kondisi tutupan lahan di sekitarnya, sehingga perlu adanya monitoring secara berkala. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk menghasilkan model spasial aliran permukaan yang nantinya digunakan untuk monitoring tutupan lahan yang ada di Kota Semarang. Hal ini perlu didukung dengan analisis klasifikasi tutupan lahan sehingga menjadi rujukan dalam konservasi daerah pengaliran sungai baik di daerah hulu (recharge area), daerah tengah sebagai penyangga dan daerah hilir sebagai tempat berkumpulnya aliran permukaan yang merasakan dampak paling besar dalam kerusakan. Monitoring aliran permukaan dan kondisi tutupan lahan dapat dilakukan secara cepat dan tepat menggunakan analisis spasial dengan memanfaatkan data DEM (Digital Elevation Model) dan citra satelit. Pemodelan hidrologi aliran permukaan dan kondisi tutupan lahan di atasnya dapat dianalisis secara bersamaan berbasis spasial dengan teknologi Remote Sensing dan Sistem Informasi Geografis. Didapat hasil luas vegetasi yang lebih dari 30% tidak sampai di separuh jumlah DAS (Daerah Aliran Sungai) yang ada, tepatnya hanya 5 (lima) DAS dari keseluruhan 12 (dua belas). Luas terbesar ada di DAS Blorong 62,41%. Dari analisis NDVI lahan bervegetasi dan vegetasi jarang mendominasi sampai 60%. Konservasi dan perlindungan kawasan bervegetasi pada DAS harus dilakukan untuk menghindari efek yang ditimbulkannya seperti bencana banjir.Kata kunci:Â aliran permukaan, daerah aliran sungai, tutupan lahan, kerapatan vegetasi, Remote Sensing, Sistem Informasi GeografisABSTRACTLike other cities in this world, the development in Semarang is very rapidly. Monitoring and analysis of the physical condition is very important to a region with a high level dynamic. The development give effect to the morphological changes in surface runoff and land cover conditions in the vicinity, so periodic monitoring is needed. The purpose of this study is to generate a spatial model of runoff that will be used for monitoring land cover in the city of Semarang. This should be supported by the analysis of land cover classification so that makes reference to the conservation of the drainage area of the river both upstream (recharge area), central area as a buffer, and downstream areas as a gathering place for runoff that is the part that felt the most impact in damages. Monitoring the flow of surface and condition of land cover can be done quickly and accurately using spatial analysis of data utilizing DEM (Digital Elevation Model) and satellite imagery. Hydrological modelling runoff and land cover conditions on it can be analyzed simultaneously with technology spatial using Remote Sensing and Geographic Information Systems. Technology obtained results of extensive vegetation of more than 30% less than in half the number of existing watershed, rather only 5 (five) watershed on the whole 12 (twelve). The largest area is in the Blorong watershed 62.41%. From the analysis of NDVI vegetated land and sparse vegetation rarely indomination up to 60%. Conservation and protection of vegetation in the watershed region must be taken to avoid its effects such as floods.Keywords: runoff, watershed, land cover, vegetation density, Remote Sensing, Geographic Information Systems
Copyrights © 2015