Media massa memiliki peran ganda sebagai penyampai informasi sekaligus medium penyebaran pesan terorisme. Salah satu genre yang berkembang pasca tragedi 7/7 London adalah jurnalisme keamanan yang menggarisbawahi bagaimana media menerjemahkan peristiwa terorisme serta membentuk persepsi publik tentang ancaman. Tulisan ini bertujuan untuk mengkaji jurnalisme kemanan dan mengkritisi model-model jurnalisme keamanan yang selama ini berfokus pada framing teks berita, dengan menambahkan dimensi mediatisasi digital, proses media translation, dan bias struktural media dalam memberitakan isu-isu terorisme kontemporer. Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif dengan metode literatur review naratif terhadap 21 artikel jurnal akademik yang dipublikasikan di tandfonline.com periode 2015–2024.. Hasil penelitian menunjukkan bahwa mediatisasi dalam jurnalisme keamanan membentuk kondisi konflik yang termediasi secara digital, yang disebut diffused war yang sulit diprediksi. Studi ini menyimpulkan bahwa praktik jurnalisme keamanan saat ini masih menyisakan kesenjangan dalam memahami dampak mediatisasi, bias framing, serta etika penerjemahan pesan ekstremis di media. Penelitian ini merekomendasikan perlunya media massa menerapkan praktik jurnalistik yang lebih seimbang, kontekstual, dan etis dalam melaporkan isu-isu terorisme guna menghindari stereotipe dan polarisasi publik.
Copyrights © 2025