ABSTRAKKabupaten Maluku Tenggara Barat secara umum dikategorikan sebagai wilayah kepulauan maritim karenadominasi sumberdaya alam maupun masyarakat berbasis pada jasa kelautan. Sejauh ini, kebutuhan makanan diwilayah ini masih tergantung dari wilayah lain seperti Jawa dan Sulawesi. Penelitian ini mengembangkan konsepevaluasi potensi lahan pertanian berdasarkan data sistem lahan dan informasi fisik lahan terkini. Interpretasi citrasatelit dilakukan untuk perolehan data fisik lahan yang diintegrasikan dengan data sistem lahan dengan menggunakanSistem Informasi Geografis dalam analisis spasial potensi lahan pertanian tersebut. Penerapan konseppengembangan lahan pertanian yang digunakan menghasilkan tiga jenis potensi lahan yaitu pertanian padi sawah,pertanian lahan kering, dan pengembangan tanaman tahunan. Namun demikian, hasil penelitian masih merupakaninformasi awal zonasi lahan yang memiliki potensi tersebut, dan dapat digunakan sebagai data awal untukpengembangan lebih lanjut terhadap kesesuaian jenis pertanian sampai dengan jenis komoditasnya. Hasil penelitianmenunjukkan bahwa wilayah kabupaten ini memiliki areal potensi lahan pertanian sawah dengan kelas sesuaimarginal (S3) seluas 53.000 ha atau 8,7 % dari total wilayah, potensi lahan pertanian lahan kering dengan kelassesuai marginal (S3) seluas 44.000 ha atau 9,9 % dari total wilayah. Berdasarkan hasil analisis ini, potensipengembangan lahan pertanian di wilayah kepulauan maritim ini cukup besar meskipun dalam kategori sesuaimarginal. Lahan dengan kondisi seperti ini mempunyai pembatas-pembatas yang besar, oleh karena itu upaya-upayamanajemen pada tingkat pengelolaan harus diterapkan. Informasi spasial memiliki peran penting dalam rangkamendukung program ketahanan pangan nasional.Kata Kunci: Lahan Pertanian, Zonasi Lahan, Kepulauan Maritim, Lahan Marginal, Pengembangan Lahan.ABSTRACTIn general, Maluku Tenggara Barat Regency is considered as a maritime archipelago due to the dominance of bothnatural and social resources which are mainly supported by marine base services. So far, basic food needs of theregion constantly depend on food production from other areas, such as Java and Sulawesi. This research developed aconcept of potential agriculture site selection base on land system and current physical land information. Moreover,satellite image interpretation was used to obtain land physical data. Integration of these data with land use and landsystem data using a Geographic Information System tool to perform spatial analysis in order to obtaina potentialfarmland classification. This analysis result in three types of potential agricultural land namely wetland rice agriculture,dry land agriculture, and annual crops agriculture. This results show provisional information which has potential use forland zonation. Accordingly, the results can be used as input for further development of feasibility study for definingagricultural zone and crop types. The potential farmland class shows that land area potential for developing wetlandrice agricultural amounted for 53 thousand hectares (8.7% of the total area) and dry land agricultural amounted for44,000 hectares (9.9% of the total area); both fall in marginally suitable class (S3). Looking at the number, thepotential area for developing agricultural in the maritime archipelago is actually quite large, although those are fall inthe category of marginally suitable. Land in this category has great physical limitations, so that maintenance at thelevel of management should be implemented. This kind of spatial information actually has in important role insupporting national food security.Keywords: Agricultural Land, Land Use Zoning, Maritime Islands, Marginal Land, Development Land.
Copyrights © 2013