Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis bentuk-bentuk kesantunan dan pelanggaran kesantunan berbahasa yang dilakukan oleh tokoh politik Indonesia di jejaring sosial digital, serta bagaimana penggunaan bahasa tersebut mencerminkan strategi pencitraan dan pembentukan identitas politik. Dengan menggunakan pendekatan kualitatif deskriptif, data dikumpulkan dari unggahan media sosial para politisi seperti Ganjar Pranowo, Prabowo Subianto, Anies Baswedan, dan lainnya, melalui teknik simak bebas libat cakap dan dokumentasi. Hasil penelitian menunjukkan bahwa penggunaan bahasa daerah, alih kode, dan gaya bahasa tertentu menjadi strategi untuk membangun kedekatan dengan publik. Di sisi lain, ditemukan pula pelanggaran terhadap prinsip-prinsip kesantunan berbahasa, khususnya dalam konteks debat politik, seperti pelanggaran maksim kebijaksanaan, kemurahan, kerendahan hati, dan kesetujuan. Fenomena ini menegaskan peran penting media sosial sebagai ruang komunikasi politik yang strategis sekaligus menantang dalam menjaga etika berbahasa. Temuan ini diharapkan dapat menjadi kontribusi dalam pengembangan komunikasi politik yang lebih etis dan berbudaya di era digital.
Copyrights © 2025