Penelitian ini menganalisis volatilitas harga saham Bank Central Asia (BBCA) dan Bank Rakyat Indonesia (BBRI) dalam konteks kondisi ekonomi makro dan dinamika VUCA (Volatility, Uncertainty, Complexity, dan Ambiguity) selama periode Januari 2022 hingga Desember 2023. Metode yang digunakan meliputi pengukuran standar deviasi harga saham untuk menilai tingkat volatilitas. Hasil menunjukkan bahwa BBCA memiliki volatilitas lebih tinggi (1,5%) dibandingkan BBRI (1,2%). Fluktuasi harga saham dipengaruhi oleh inflasi, suku bunga, dan sentimen pasar. Inflasi yang tinggi dan suku bunga yang meningkat memperburuk ketidakpastian di pasar, sementara pertumbuhan ekonomi yang stabil dapat meningkatkan kepercayaan investor. Dalam kondisi VUCA, investor cenderung beralih ke aset yang lebih aman. Temuan ini menekankan perlunya pemahaman mendalam tentang hubungan antara volatilitas, kondisi ekonomi makro, dan faktor eksternal, serta pentingnya analisis yang komprehensif bagi investor dan kebijakan yang responsif dari pemangku kebijakan untuk mencapai stabilitas dan pertumbuhan ekonomi.
Copyrights © 2025