agal tumbuh pada anak balita disebabkan oleh kurangnya asupan gizi dan infeksi berulang. Faktorpola asuh orangtua terhadap pemberian gizi merupakan faktor penting. Prevalensi stunting (35,9%)dan gizi kurang (26,7%) di Lombok Utara, sebagai alasan utama pengabdian dilaksanakan. Tujuanmeningkatkan kapasitas ibu-ibu yang memiliki balita. Intervensi berupa penyuluhan tentang pola asuh,skrining anemia, penimbangan balita, pemeriksaan kesehatan, dan pembagian beras. Sasaran 192balita stunting dan gizi kurang di desa Senaru, pada bulan September dan Desember 2023. Separuh(52,6%) balita sering mengkonsumsi jajanan, 29,5% balita sering menolak makanan yang disediakankarena memilih jajan. Jadwal pemberian makan balita sering tidak teratur (49,1%). 67,1%) ibumengaku sangat sering memasak dan menyajikan sendiri makanan (67,1%) dan ibu mendampingibalita saat makan (53,3%). Balita sangat pendek berkurang sebesar 38% selama periode 3 bulan, balitagizi kurang menurun 7%. Simpulan pola asuh yang baik telah diterapkan dalam menyiapkan makanandan mendampingi balita saat makan, tetapi pola asuh kurang baik ditunjukkan dengan pemberianmakanan tidak sesuai jadwal makan dan konsumsi jajanan. Disarankan melakukan intervensi terkaitpola asuh pada balita dengan penekanan pada pola asuh penyajian dan pemberian makan sesuaijadwal makan, serta mengurangi jajanan untuk balita. Rekomendasi posyandu lebih mengaktifkanmeja kelima agar masyarakat dapat memperoleh informasi tentang pentingnya kebutuhan gizi padabalita.
Copyrights © 2025