Tulisan ini menelusuri kemunculan kelompok Islam radikal pada masa awal perkembangan Islam dengan memfokuskan perhatian pada kelompok Khawarij. Mereka dikenal sebagai para penghafal Al-Qur’an (qurrā’) yang memiliki corak keberagamaan yang ketat dan cenderung ekstrem. Dengan menggunakan metode deskriptif-analitis dan pendekatan teori resepsi Al-Qur’an, tulisan ini mengkaji bagaimana kelompok Khawarij meresepsi Al-Qur’an, dalam dua bentuk: performatif dan informatif. Resepsi performatif mengacu kepada Al-Qur’an yang dibaca, dihafal, atau digunakan dalam ritual sehari-hari; sedangkan resepsi informatif mengacu kepada Al-Qur’an yang dipahami melalui isyarat-isyarat kebahasaan. Secara performatif, Khawarij menampilkan komitmen tinggi dalam pembacaan dan penghafalan Al-Qur’an. Secara informatif, mereka menafsirkan teks-teks keagamaan secara literal, menolak ta’wil dan pendekatan analogis (qiyās), serta menjadikannya sebagai dasar pembentukan doktrin takfīr. Studi ini juga menunjukkan bahwa resepsi mereka terhadap Al-Qur’an dipengaruhi oleh latar sosial-geografis mereka, yakni komunitas Arab Badui yang berada di pinggiran kekuasaan pusat, dengan akses terbatas terhadap tradisi intelektual Islam. Temuan ini memberikan kontribusi penting dalam memahami hubungan antara latar sosial dan pola keberagamaan dalam sejarah awal Islam.
Copyrights © 2025