Budaya Betawi memiliki potensi besar dalam mendukung konsep ekonomi hijau, sirkular dan digital dalam konteks pembangunan berkelanjutan di Jakarta. Sebagai bagian dari identitas Jakarta, budaya Betawi tidak hanya merefleksikan warisan tradisional tetapi juga memiliki nilai ekologis dan ekonomis yang dapat berkontribusi dalam pengelolaan sumber daya alam secara berkelanjutan. Hal ini menjadi semakin penting khususnya dalam menghadapi tantangan pembangunan ekonomi berkelanjutan yang melibatkan peran serta masyarakat berbasis prinsip ekonomi hijau, sirkular dan digital. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis relevansi pemikiran Pierre Bourdieu tentang modal kultural dan prinsip ekonomi berkelanjutan dalam konteks budaya Betawi yang diterapkan oleh komunitas Laskaru dalam pengelolaan ekonomi hijau, sirkular dan digital di Kelurahan Cipedak, Kecamatan Jagakarsa, Jakarta Selatan. Menggunakan metode analisis literature review dan pendekatan kualitatif analisis naratif yang menggabungkan observasi langsung dan wawancara mendalam dengan pemangku kepentingan lokal. Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa praktik tradisional dan pengetahuan lokal yang diterapkan oleh komunitas Laskaru Jagakarsa mampu memperkuat strategi pengelolaan ekonomi berkelanjutan melalui pendekatan berbasis komunitas. Temuan ini menekankan pentingnya integrasi budaya, lingkungan, dan teknologi dalam merancang kebijakan pelestarian dan pembangunan berkelanjutan berbasis masyarakat di wilayah urban. Implikasi dari penelitian ini adalah perlunya dukungan kebijakan yang mendorong integrasi ekonomi hijau, sirkular dan digital berbasis budaya lokal sebagai strategi pengelolaan sumber daya yang lebih berkelanjutan
Copyrights © 2025