Penelitian ini menganalisis peran ganda guru sebagai pengajar dan konselor di tempat dengan layanan Bimbingan dan Konseling (BK) yang sangat sedikit. Metode kualitatif, observasi, dan wawawancara mendalam yang dipakai di SD Negeri 05 Medan terhadap gutu untuk menganalisis dinamika peran guru, faktor pendukung, dan hambatan dalam layanan bimbingan dan konseling. Temuan menunjukkan bahwa guru dihadapkan pada situasi dimana menjadi seorang guru, selain sebagai pendamping akademik siswa, juga harus bisa berperan sebagai konselor bagi siswa mengingat tidak semua sekolah menyediakan layanan bimbingan konseling. Mereka sebagian besar mengandalkan intuisi dan komunikasi verbal informal, serta kolaborasi dengan orang tua siswa melalui platform digital, untuk mengidentifikasi dan mengelola masalah siswa. Namun partisipasi orang tua yang tidak konsisten dan kurangnya dukungan sistemik (seperti tim psikologis sekolah) menjadi kendala utama. Kajian ini merekomendasikan peningkatan pelatihan dasar konseling bagi guru, terjalinnya kolaborasi struktural antar pemangku kepentingan, dan sosialisasi metode disiplin modern yang selaras dengan nilai-nilai budaya lokal. Hasil penelitian ini menggarisbawahi kebutuhan mendesak akan kebijakan pendidikan holistik untuk mengurangi beban emosional guru dan meningkatkan kualitas layanan siswa.
Copyrights © 2025