Digitalisasi mentransformasi gaya hidup dari 'face to face' menuju 'screen to face'. Implikasinya ialah membuka ruang gejala psikologis-negatif yakni (Fear of Missing Out) FoMO. Data historis dan analisis interpretasi An-Nisā/4:83 menunjukkan pada embriologi FoMO telah menjangkiti para hipokrit di era Al-Qur'an, namun dalam hal ini Sang Risalah dan Ulil-Amri menjadi mitra medikasi yang terabaikan. Untuk mengkontekstualisasi fenomena ini Ma'nā cum Maghzā menjadi sebuah bacaan kedisinian- dengan mengintegrasikan medikasi Abraham Maslow dan al-Ghazali menjadi tujuan penelitian dalam karya ini, sehingga pembaca dapat menikmati secara 'Asyik dan Ma'syuk'. Metode kualitatif jenis kepustakaan dengan analisis deskriptif menjadi pisau analisis metodologi. Kepustakaan digunakan untuk menangkap data-analisis data lanjutan dalam mengeksplorasi narasi FoMO dalam An-Nisā'/4: 83 dan medikasinya. Dengan itu triangulasi sumber menjadi verivikasi berbagai data tersebut. Hasil pembahasan mengungkap bahwa FoMO yang terlukis dalam An-Nisā'/4: 83 dapat diketahui dengan bantuan Ma'nā cum Maghzā. Selain itu integritas medikasi memberi lima poin utama: 1) Pengakuan diri dan kesadaran digital; 2) Afiliasi dan kebutuhan sosial; 3) Redefinisi & reorientasi harga diri; 4) Refleksi & Tazkiyah jiwa; 5) Aktualisasi & misi eksistensial diri.
Copyrights © 2025