This document presents a comparison of the thinking of Hasan Hanafi and Muhammad Shahrur in interpreting ambiguous verses in the Qur'an. Hasan Hanafi is known as a progressive thinker who seeks to connect Islamic texts with contemporary realities through a hermeneutical and phenomenological approach. He believes that ambiguous verses should not be understood solely literally but must be interpreted taking into account the current social, political, and cultural context. His hermeneutical approach enables the Qur'an to be a source of inspiration that is relevant, dynamic, and responsive to modern challenges. Furthermore, Hanafi emphasizes the phenomenological method for a deeper understanding of religious experience, so that interpretation of verses is not merely normative but also transformative for social life. Meanwhile, information regarding Muhammad Shahrur's views on ambiguous verses is not detailed in this document. Shahrur himself is known as a figure who widely used rational and modern linguistic approaches in interpreting the Qur'an, including the concept of al-hudūd (the boundaries of meaning). However, without an in-depth analysis, a comprehensive comparison between Shahrur's and Hanafi's frameworks is limited. Nevertheless, Hanafi's significant contributions to the development of Islamic hermeneutics, particularly through thematic interpretation and phenomenological approaches, have been well documented. To gain a complete picture of the differences and common ground between the two, further research is needed. An in-depth study of Shahrur's methodology and epistemological orientation will open up opportunities for a more comprehensive comparative analysis, thereby enriching contemporary exegetical discourse on mutasyabihat verses in the modern era. Abstrak Dokumen ini memaparkan perbandingan pemikiran antara Hasan Hanafi dan Muhammad Shahrur dalam menafsirkan ayat-ayat mutasyabihat (ambigu) dalam Al-Qur’an. Hasan Hanafi dikenal sebagai pemikir progresif yang berupaya menghubungkan teks-teks Islam dengan realitas kontemporer melalui pendekatan hermeneutika dan fenomenologi. Ia memandang bahwa ayat-ayat mutasyabihat tidak boleh dipahami secara literal semata, melainkan harus diinterpretasikan dengan mempertimbangkan konteks sosial, politik, dan budaya zaman sekarang. Pendekatan hermeneutikanya memungkinkan Al-Qur’an menjadi sumber inspirasi yang relevan, dinamis, dan responsif terhadap tantangan modern. Selain itu, Hanafi menekankan metode fenomenologis untuk memahami pengalaman keagamaan secara mendalam, sehingga penafsiran ayat tidak hanya bersifat normatif, tetapi juga transformatif bagi kehidupan sosial. Sementara itu, informasi mengenai pandangan Muhammad Shahrur terhadap ayat-ayat mutasyabihat tidak dijabarkan secara rinci dalam dokumen ini. Shahrur sendiri dikenal sebagai tokoh yang banyak menggunakan pendekatan rasional dan linguistik modern dalam menafsirkan Al-Qur’an, termasuk konsep al-hudūd (batas-batas makna). Namun, tanpa uraian mendalam, perbandingan komprehensif antara kerangka pikir Shahrur dan Hanafi menjadi terbatas. Meski demikian, kontribusi signifikan Hanafi terhadap pengembangan hermeneutika Islam, khususnya melalui interpretasi tematik dan pendekatan fenomenologis, telah terdokumentasi dengan baik. Untuk memperoleh gambaran utuh mengenai perbedaan maupun titik temu antara keduanya, penelitian lanjutan diperlukan. Kajian mendalam atas metodologi dan orientasi epistemologis Shahrur akan membuka peluang analisis perbandingan yang lebih menyeluruh, sehingga dapat memperkaya wacana tafsir kontemporer terhadap ayat-ayat mutasyabihat di era modern.
Copyrights © 2025