cover
Contact Name
Hoirul Anam
Contact Email
hoirulanama96@gmail.com
Phone
+6287848003826
Journal Mail Official
hoirulanama96@gmail.com
Editorial Address
Jl. Dusun Kamal, RT.65/RW.29, Kamal, Karangsari, Kec. Pengasih, Kabupaten Kulon Progo, Daerah Istimewa Yogyakarta 55674
Location
Kab. kulon progo,
Daerah istimewa yogyakarta
INDONESIA
AL-Ikhtiar : Jurnal Studi Islam
ISSN : -     EISSN : 30891973     DOI : -
AL-IKTIAR, Journal of Islamic Studies is to publish original empirical research articles and theoretical reviews of Islamic Studies, covering a wide range of issues on Islamic studies in a number of fields including as below. 1. Islamic Education 2. Islamic Thought 3. Islamic Law 4. Islamic Theology 5. Islamic Politics 6. Islamic History and Civilization
Articles 112 Documents
Salafi Wahabi Melani; Sundari; Darul Kutni; Nyono Cahyo Putro; Winda Rizki Yanti
AL-Ikhtiar : Jurnal Studi Islam Vol. 1 No. 1 (2024): Studi Islam
Publisher : 4

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

wahabi merupakan sesuatu ajaran, atau gerakan dakwah yang dipelopori oleh Muhammad ibn Abd al wahhab saat abad ke 18 M. Beliau  memperjuangkan bersama golongannya di wilayah Najd, kemudiaan pengaruhnya menyebar di wilayah kerajaan Saudi Arabia dan wilayah di luarnya Saudi Arabia. Istilah Salafi bisa ditelusuri pada akar kata “Salafi” yang artinya orang orang yang hidup sebelum kita. ada tiga macam kelompok salafi yang berkembang di Indonesia yaitu Salafi Puris, yaitu: Sikap kelompok ini terhadap pemerintah dan negara bervariasi: ada yang menolak organisasi ataupun partai, ada yang koperatif dan terbuka dengan komunitas lain. Salafi Haraki: Merupakan kelompok yang mendukung pemurnian ajaran islam dan enggak setuju dengan ideologi dan aturan negara yang tidak berlandaskan secara langsung kepada syariat. Salafi Jihadi: melakukan penyerangan terhadap praktek ataupun kelompok yang melakukan kerusakan, pembunuhan, dan pemboman dengan mengatasnamakan jihad. Abstract Wahabı is a teaching, or missionary movement that was pioneered by Muhammad ibn Abd al Wahhab in the 18th century AD. He fought with his group in the Najd region, then its influence spread throughout the kingdom of Saudi Arabia and areas outside Saudi Arabia. The term Salafi can be traced to the root of the word "Salafi, which means people who lived before us. There are three types of Salafi groups that have developed in Indonesia, namely Salafi Puris, namely the attitude of this group towards the government and the state varies, some reject organizations or parties, some are cooperative and open to other communities. Salati Haraki is a group that supports the purification of Islamic teachings and does not agree with ideology and state regulations that are not based directly on sharia, Salafi Jihadı carries out attacks on practices or groups that commit murder and bombings in the name of TATEST jihad.
Analisis Syiah Mazhab Ahlul Bait Di Yayasan Islam Abu Thalib Abdillah Rizki Tanjung; Akhmed Syarifatul Raflus; Nisa Syahrani; Nurul Fitriyani; Oca
AL-Ikhtiar : Jurnal Studi Islam Vol. 1 No. 1 (2024): Studi Islam
Publisher : 4

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

This research aims to analyze the Shia community in Abu Talib Islamic Foundation, Medan City, North Sumatra, focusing on their teachings, religious practices, and social interactions. Using a qualitative descriptive method, data was collected through in-depth interviews, participatory observation, and literature analysis from primary and secondary sources. The results show that the Abu Talib Islamic Foundation plays an important role in teaching and promoting Shia teachings through religious and educational activities. Despite being faced with social stigma, this community still shows strong resilience and solidarity in interaction with other Muslim communities in Medan.This research contributes to deepening the understanding of the internal dynamics of the Shia community and its implications for the wider society. The findings are expected to support policies that promote religious pluralism and tolerance in Indonesia, as well as serve as a basis for further studies on religious minorities in the country. Abstrak             Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis komunitas Syiah di Yayasan Islam Abu Thalib, Kota Medan, Sumatera Utara, fokus pada ajaran, praktik keagamaan, dan interaksi sosial mereka. Dengan menggunakan metode deskriptif kualitatif, data dikumpulkan melalui wawancara mendalam, observasi partisipatif, dan analisis literatur dari sumber primer dan sekunder.Hasil penelitian menunjukkan bahwa Yayasan Islam Abu Thalib berperan penting dalam mengajarkan dan mempromosikan ajaran Syiah melalui kegiatan keagamaan dan pendidikan. Meskipun dihadapkan pada stigma sosial, komunitas ini tetap menunjukkan ketahanan dan solidaritas yang kuat dalam interaksi dengan komunitas Muslim lainnya di Medan.Penelitian ini berkontribusi dalam memperdalam pemahaman tentang dinamika internal komunitas Syiah dan implikasinya terhadap masyarakat lebih luas. Temuan ini diharapkan dapat mendukung kebijakan yang mempromosikan pluralisme dan toleransi beragama di Indonesia, serta menjadi dasar untuk studi lebih lanjut tentang minoritas agama di negara ini.
Aliran Murji’ah Sejarah Dan Pemikirannya Ansor Halomoan Sagala; Della Amanda; Nabila Addi; Raja Syahnan Habiaran Siregar; Ridzky Wahyuni
AL-Ikhtiar : Jurnal Studi Islam Vol. 1 No. 1 (2024): Studi Islam
Publisher : 4

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Murji’ah is one of the theological groups in Islam that has various etymological meanings such as delaying, fear, hope, giving, and wishing. This group emphasizes the importance of faith over deeds and postpones the judgment of actions until the Day of Judgment. According to Al Bagdadi, Murji’ah does not punish individuals based on their deeds in this world. The emergence of Murji’ah initially aimed to oppose the Khawarij view that excommunicated the two judges in the conflict between Ali and Muawiyah. Al Hasan bin Muhammad bin Hanafiyah is considered the first figure to spread the concept of Irja’ among Muslims. Murji’ah later developed into various groups with different thoughts and doctrines, including the belief that faith is only affirmation and deeds are not part of the essence of faith. Famous figures from Murji’ah include Al Hasan bin Muhammad bin Al Hanafiyah, Ghiilan, Jahm bin Shafwan, and Abu Hanifah. This discussion will comprehensively cover the definitions and arguments used by Murji’ah. The methodology of this research is a literature study of classical and contemporary works on Murji’ah. Abstrak Murji’ah merupakan salah satu kelompok teologis dalam Islam yang memiliki berbagai makna etimologis seperti mengakhirkan, takut, angan-angan, memberi, dan mengharap. Kelompok ini menekankan pentingnya iman di atas amal perbuatan dan menunda penilaian amal hingga hari kiamat. Menurut Al Bagdadi, Murji’ah tidak menghukum seseorang berdasarkan amal perbuatannya di dunia. Kemunculan Murji’ah awalnya bertujuan menentang pandangan Khawarij yang mengkafirkan dua hakim dalam perselisihan antara Ali dan Muawiyah. Al Hasan bin Muhammad bin Hanafiyah dianggap sebagai tokoh pertama yang menyebarkan pemahaman Irja’ di kalangan umat Islam. Murji’ah kemudian berkembang menjadi berbagai kelompok dengan pemikiran dan aqidah yang berbeda, termasuk keyakinan bahwa iman adalah pembenaran saja dan amal tidak termasuk dalam hakekat iman. Tokoh-tokoh terkenal dari Murji’ah termasuk Al Hasan bin Muhammad bin Al Hanafiyah, Ghiilan, Jahm bin Shafwan, dan Abu Hanifah. Dalam pembahasan ini, akan dibahas secara keseluruhan mengenai definisi hingga hujjah-hujjah yang digunakan oleh Murji’ah. Metodologi dalam penelitian ini adalah studi literatur terhadap karya-karya klasik dan kontemporer tentang Murji’ah.
Perjalanan Hidup Abuya Muhtadi Banten Nurcholis Azis; Wildan sahputra Siregar; Siti Maimunah Siregar; Siti Nurhasanah harahap; Wardah Nazhifah Hasibuan
AL-Ikhtiar : Jurnal Studi Islam Vol. 1 No. 1 (2024): Studi Islam
Publisher : 4

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

This research discusses the life journey of Abuya Muhtadi Banten who is one of the charismatic kyai from Banten. The teachings about the Islamic teachings of Banten residents are very existent, this is based on oral history that has spread among the people of Indonesia. In addition, this paper was made to provide answers to people who deny the teachings of scholars who have been summarized and believed. This research aims to find out the life journey of Abuya Muhtadi Banten. This research is expected to answer questions about the life history of Abuya Muhtadi Banten. This research uses qualitative methods. With the results of the study, Abuya Muhtadi is the first child of Abuya Dimyathi who is also one of the successors and also the holder of the Raudhatul 'Ulum Islamic boarding school until now. Abuya Muhtadi since childhood has been taught and participated in following in his father's footsteps as a preacher, which began with the activities of studying and reciting the Koran conducted at boarding schools in Banten. Abuya Muhtadi's understanding of the Koran was used as a basis for exploring Islamic religious knowledge. Abuya Muhtadi is also one of the Mustayar PBNU administrators. Abuya Muhtadi is one of the scholars who has a commitment to the integrity of the Indonesian nation and state which has a fatwa focusing on Pancasila, HTI and mass organizations. He is the chairman or imam of M3CB. Abstrak             Penelitian ini membahas tentang perjalanan hidup Abuya Muhtadi Banten yang merupakan salah satu kyai kharismatik asal Banten. Ajaran tentang keislaman warga Banten sangat eksis hal tersebut didasarkan pada sejarah lisan yang telah tersebar di kalangan masyarakat Indonesia. Selain itu dibuatnya tulisan ini guna untuk memberikan jawaban kepada orang-orang yang menafikan ajaran ulama yang telah dirangkum serta diimani. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui perjalanan hidup Abuya Muhtadi Banten. Penelitian ini diharapkan dapat menjawab pertanyaan mengenai sejarah kehidupan Abuya Muhtadi Banten. Penelitian ini menggunakan metode kualitatif. Dengan hasil penelitian yaitu Abuya Muhtadi merupakan anak pertama dari Abuya Dimyathi yang juga salah satu penerus dan juga pemegang pondok pesantren Raudhatul 'Ulum hingga saat ini. Abuya Muhtadi sejak kecil sudah diajarkan dan ikut serta mengikuti jejak ayahnya sebagai pendakwah yang diawali dengan kegiatan berguru dan mengaji yang dilakukan di pondok pesantren yang ada di Banten. Bekal pemahaman mengaji yang dimiliki oleh Abuya Muhtadi dijadikannya sebagai dasar untuk mendalami ilmu agama Islam. Abuya Muhtadi juga merupakan salah satu pengurus Mustayar PBNU. Abuya Muhtadi merupakan salah satu ulama yang memiliki komitmen terhadap keutuhan bangsa dan negara Indonesia yang memiliki fatwa berfokus pada Pancasila, HTI dan ormas. Ia merupakan ketua atau imam M3CB.
Moderasi Beragama: Pentingnya Toleransi dan Keharmonisan dalam Masyarakat Multikultural Pomita; Siti Parhana; Aisa Ramadani
AL-Ikhtiar : Jurnal Studi Islam Vol. 1 No. 1 (2024): Studi Islam
Publisher : 4

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

This journal will discuss religious moderation as an effort to promote tolerance, respect for differences in beliefs, and build harmony in multicultural societies, as well as the importance of tolerance and harmony in multicultural societies. This research highlights the importance of interfaith dialogue, rejection of religious extremism, and promotion of universal values that encourage interfaith cooperation. The research aims to explore the role of religious moderation in fostering an attitude of understanding and appreciation of differences in multicultural societies. The main objective of the research is to emphasize the importance of religious moderation as a foundation for building harmony among religious communities and cultural diversity. To create an inclusive, peaceful, and sustainable environment, it is necessary to build a multicultural society based on tolerance, harmony, and interfaith dialogue. The methods used in this research are literature review and internet searching. Literature review is a data collection technique obtained by reading, noting, and synthesizing literary sources used as references, while internet searching method collects data from the internet, especially from official websites, online databases, and digital libraries. The author emphasizes the importance of religious moderation, tolerance, and harmony in multicultural societies. The author also discusses interfaith dialogue and the principles of religious dialogue. Abstark Jurnal ini akan membahas moderasi beragama sebagai upaya untuk mempromosikan toleransi, menghormati perbedaan keyakinan, dan membangun keharmonisan dalam masyarakat multikultural serta pentingnya toleransi dan keharmonisan dalam masyarakat multikultural. Penelitian ini menyoroti pentingnya dialog antaragama, penolakan terhadap  ekstremisme agama, dan promosi nilai-nilai universal yang mendorong kerjasama lintas agama. Penelitian ini bertujuan untuk menggali peran moderasi beragama dalam menciptakan sikap saling memahami dan menghargai perbedaan di tengah masyarakat multikultural. Tujuan utama penelitian adalah untuk menyoroti pentingnya moderasi beragama sebagai landasan untuk membangun kerukunan antar umat beragama dan keberagaman budaya. Untuk menciptakan lingkungan yang inklusif damai dan berkelanjutan maka dibutuhkannya membangun masyarakat multikultural yang didasari oleh toleransi, keharmonisan, dan dialog antargama. dalam penelitian ini Metode yang digunakan yakni studi pustaka serta internet searching, metode Penelitian kepustakaan merupakan suatu cara pengumpulan data yang didapatkan melalui cara dengan membaca, mencatat dan mensintesis sumber-sumber pustaka yang dijadikan referensi dan metode internet searching mengumpulkan sumber informasi yang berasal dari internet terutama dari website-website resmi basis data online, dan perpustakaan digital. Penulis memaparkan bahwa pentingnya moderasi beragama serta toleransi dan keharmonisan dalam masyarakat multikultural. Penulis juga memberikan diskusi mengenai dialog antaragama dan prinsip-prinsip dialog agama.
Toleransi dan Solidaritas: Menjaga Moderasi Beragama di Antara Tetangga Non-Muslim Hany Rahmatul Fitri; Syarifah Elisa Idrus; Nazlah Saskia Humayira
AL-Ikhtiar : Jurnal Studi Islam Vol. 1 No. 1 (2024): Studi Islam
Publisher : 4

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Openness and tolerance in religion are fundamental pillars in maintaining harmony and peace in a multicultural society. Social solidarity also plays an important role in strengthening relationships between individuals and groups, creating an inclusive and compassionate environment. Religious moderation, with a balanced attitude between personal beliefs and respect for the beliefs of others, is key to preventing intolerance and radicalism. By integrating the values of tolerance, solidarity and religious moderation in daily life, people can build a solid foundation for harmony, mutual respect and effective cooperation. Tolerance is the foundation for building harmonious and respectful relationships between religious communities. Solidarity, on the other hand, underscores the importance of mutual cooperation and social care amidst differences in beliefs. Meanwhile, religious moderation aims to encourage views, attitudes, and behaviors that are balanced and not extreme in carrying out religious teachings. Abstrak Keterbukaan dan toleransi dalam beragama merupakan pilar fundamental dalam menjaga harmoni dan kedamaian dalam masyarakat yang multikultural. Solidaritas sosial juga memiliki peran penting dalam memperkuat hubungan antarindividu dan kelompok, menciptakan lingkungan yang inklusif dan penuh kasih. Moderasi beragama, dengan sikap seimbang antara keyakinan pribadi dan penghargaan terhadap keyakinan orang lain, adalah kunci untuk mencegah intoleransi dan radikalisme. Dengan mengintegrasikan nilai-nilai toleransi, solidaritas, dan moderasi beragama dalam kehidupan sehari-hari, masyarakat dapat membangun fondasi yang kokoh untuk kerukunan, saling menghargai, dan bekerja sama secara efektif. Toleransi merupakan landasan dalam membangun hubungan yang harmonis dan saling menghormati antar umat beragama. Solidaritas, di sisi lain, menggarisbawahi pentingnya gotong royong dan kepedulian sosial di tengah perbedaan keyakinan. Sedangkan moderasi beragama berupaya mengedepankan pendekatan seimbang serta sikap maupun perilaku moderat dalam mengamalkan ajaran agama.
Peran Moderasi Dalam Membangun Toleransi Beragama Khairunisa; Shela Rahmayanti
AL-Ikhtiar : Jurnal Studi Islam Vol. 1 No. 1 (2024): Studi Islam
Publisher : 4

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

The pluralistic Indonesian nation consists of many different cultures. Diversity in terms of language, race, religion, ethnicity, customs, and culture. Adhering to one's own views is not religious tolerance. In addition, avoid exchanging views with other religious communities. The development of religious tolerance is greatly assisted by this discussion. This study uses a qualitative research methodology, collecting data from various publications that have been studied by other researchers. Therefore, the next stage is to conduct additional analysis and rearrange the data according to the system that the author has created. The purpose of this study is to clarify how moderation contributes to the development of tolerance for rules. In order for both parties to respect and appreciate each other's talents and shortcomings, they must be able to supervise each other and build an environment full of tolerance. This is the essence of moderation within the framework of tolerance. Abstrak Bangsa Indonesia yang majemuk terdiri dari banyak kebudayaan yang berbeda-beda. Keberagaman baik dari segi bahasa, ras, agama, suku, adat istiadat, dan budaya. Mematuhi pandangan sendiri bukanlah toleransi beragama. Selain itu, hindari bertukar pandangan dengan komunitas agama lain. Perkembangan toleransi beragama sangat terbantu oleh perbincangan ini. Penelitian ini menggunakan metodologi penelitian kualitatif, mengumpulkan data dari berbagai publikasi yang telah diteliti oleh peneliti lain. Oleh karena itu, tahap selanjutnya adalah melakukan analisis tambahan dan menata ulang data sesuai dengan sistem yang telah penulis buat. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk memperjelas bagaimana moderasi berkontribusi terhadap pengembangan toleransi terhadap aturan. Agar kedua belah pihak dapat saling menghormati dan menghargai bakat dan kekurangan masing-masing, maka harus mampu saling mengawasi dan membangun lingkungan yang penuh toleransi. Inilah inti dari moderasi dalam kerangka toleransi.
Peran Literasi Digital Dalam Pendidikan Moderasi Beragama Untuk Menanggulangi Hoaks Berbasis Agama Putri Aulia Selviani; Isna Abidah; Adisca Fitra Handayani
AL-Ikhtiar : Jurnal Studi Islam Vol. 1 No. 1 (2024): Studi Islam
Publisher : 4

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

In order to combat religion-based hoaxes, digital literacy is essential to religious moderation education. In the current digital era, hoaxes, particularly those pertaining to religious matters, are frequently disseminated quickly and easily through social media. Those with strong digital literacy are able to recognise fake news, evaluate the reliability of sources, and comprehend the context of the content they are exposed to. This study investigates the function of digital literacy in the framework of religious moderation education using qualitative methodologies and literature reviews. Analysis of pertinent literature, including books, journals, papers, and reliable internet sources, was used to gather data. The findings of the study demonstrate that digital literacy may improve one's critical awareness of information that is in circulation and fortify one's capacity to discern reality from fiction. Furthermore, in the framework of religious moderation, digital literacy instruction may promote attitudes of respect for variety, tolerance, and positive interfaith communication. Enhancing digital literacy can help society create a more inclusive and peaceful community while also curbing the spread of hoaxes based on religion. Thus, including digital literacy into the teaching of religious moderation is a calculated move towards building a society that is more critical, tolerant, and informed. Abstrak Untuk memerangi hoax berbasis agama, literasi digital sangat penting dalam pendidikan moderasi beragama. Di era digital saat ini, hoaks, khususnya yang berkaitan dengan agama, sering kali menyebar dengan cepat dan mudah melalui media sosial. Mereka yang memiliki literasi digital yang kuat mampu mengenali berita palsu, mengevaluasi keandalan sumber, dan memahami konteks konten yang mereka lihat. Penelitian ini menyelidiki fungsi literasi digital dalam kerangka pendidikan moderasi beragama dengan menggunakan metodologi kualitatif dan tinjauan literatur. Analisis literatur terkait, termasuk buku, jurnal, makalah, dan sumber internet terpercaya, digunakan untuk mengumpulkan data. Temuan penelitian ini menunjukkan bahwa literasi digital dapat meningkatkan kesadaran kritis seseorang terhadap informasi yang beredar dan memperkuat kapasitas seseorang untuk membedakan realitas dan fiksi. Lebih lanjut, dalam rangka moderasi beragama, pembelajaran literasi digital dapat mendorong sikap menghargai keberagaman, toleransi, dan komunikasi positif antaragama. Meningkatkan literasi digital dapat membantu masyarakat menciptakan komunitas yang lebih inklusif dan damai sekaligus membatasi penyebaran hoaks yang berbasis agama. Oleh karena itu, memasukkan literasi digital ke dalam pengajaran moderasi beragama merupakan langkah yang diperhitungkan untuk membangun masyarakat yang lebih kritis, toleran, dan terinformasi.
Pentingnya Pendidikan Moderasi Beragama Di Lingkungan Sekolah Untuk Membentuk Generasi Toleran Nurwahidah; M. Ihsan Muzakki; Sela Andini
AL-Ikhtiar : Jurnal Studi Islam Vol. 1 No. 2 (2024): Islamic Studies
Publisher : 4

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

The Role of Religious Moderation Education in Forming Tolerance Awareness In the educational domain, tolerance plays an important role as a guide for all individuals involved in it. Tolerance is a crucial thing to instill among all Indonesian citizens, considering that Indonesia consists of various tribes and religions which are the richness and uniqueness of this nation. However, if not managed well, this diversity can become a source of various conflicts in society. Therefore, educational institutions have an important role in promoting the spirit of tolerance, especially in relations between religious communities. Educators and educational institutions are responsible for the process of teaching, learning, coaching, direction and character formation so that students can develop into individuals who are knowledgeable, intelligent and have dignity.  To achieve its objectives, this research uses the library research method. One of the challenges students face when integrating into society is the existence of certain groups that openly display attitudes of subordination, marginalization and hostility towards other groups with different beliefs. This research concludes that there are five core concepts that can be the essence of tolerance, namely: accepting diversity, respecting differences, having inclusive morality, showing an open attitude towards other people, and providing full support for differences and emphasizing the importance of autonomy. Abstrak Peran Pendidikan Moderasi Beragama dalam Membentuk kesadaran Toleransi Dalam domain pendidikan, toleransi memegang peranan penting sebagai pedoman bagi semua individu yang terlibat di dalamnya. Toleransi menjadi hal yang krusial untuk ditanamkan di kalangan seluruh warga negara Indonesia, mengingat Indonesia terdiri dari beragam suku dan agama yang menjadi kekayaan dan keunikan bangsa ini. Namun, jika tidak dikelola dengan baik, keragaman ini dapat menjadi sumber berbagai konflik dalam masyarakat. Oleh karena itu, lembaga pendidikan memiliki peran penting dalam mempromosikan semangat toleransi, terutama dalam hubungan antar umat beragama. Para pendidik dan lembaga pendidikan bertanggung jawab dalam proses pengajaran, pembelajaran, pembinaan, arahan, dan pembentukan karakter sehingga siswa dapat berkembang menjadi individu yang berpengetahuan, cerdas, dan memiliki martabat.  Untuk mencapai tujuan, penelitian ini menggunakan metode library research. Salah satu tantangan yang dihadapi siswa ketika berintegrasi dalam masyarakat adalah adanya kelompok tertentu yang secara terang-terangan memperlihatkan sikap subordinasi, marginalisasi, dan permusuhan terhadap kelompok lain yang berbeda keyakinan. Penelitian ini menyimpulkan bahwasanya terdapat lima konsep inti yang dapat menjadi esensi dari toleransi, yaitu: menerima keberagaman, menghargai perbedaan, memiliki moralitas yang inklusif, menunjukkan sikap terbuka terhadap orang lain, dan memberikan dukungan penuh terhadap perbedaan dan menekankan pentingnya otonomi.
Moderasi Beragama sebagai Upaya pencegahan Radikaliasme di kalangan pelajar Bayu Saputra; Ahmad Syafiq
AL-Ikhtiar : Jurnal Studi Islam Vol. 1 No. 2 (2024): Islamic Studies
Publisher : 4

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Religious moderation is a crucial approach in preventing radicalism among students. This approach emphasizes the importance of adopting a moderate attitude in religious practices, respecting differences in beliefs, and promoting tolerance among various interpretations of religion. Through this strategy, students are invited to understand universal religious values ​​such as peace, respecting diversity, and rejecting violence as a way to strengthen religious teachings. By encouraging religious moderation, schools and communities can create an inclusive environment where students learn to live religious lives in a balanced and harmonious manner, while still respecting their personal identities and beliefs. Abstrak Moderasi beragama adalah pendekatan krusial dalam upaya mencegah radikalisme di kalangan Pelajar. Pendekatan ini menekankan pentingnya mengadopsi sikap moderat dalam praktik keagamaan, menghormati perbedaan keyakinan, serta mempromosikan toleransi di antara berbagai interpretasi agama. Melalui strategi ini, siswa diajak untuk memahami nilai-nilai universal keagamaan seperti perdamaian, menghargai keragaman, dan menolak kekerasan sebagai cara untuk memperkuat ajaran agama. Dengan mendorong moderasi beragama, sekolah dan masyarakat dapat menciptakan lingkungan inklusif di mana siswa belajar untuk menjalani kehidupan beragama secara seimbang dan harmonis, sambil tetap menghormati identitas dan keyakinan pribadi mereka.

Page 1 of 12 | Total Record : 112