Penelitian ini didasarkan pada pentingnya memahami pematuhan dan pelanggaran maksim sebagai prinsip dalam mewujudkan komunikasi yang komunikatif, efektif, dan santun. Tujuan penelitian yang diarahkan pada pendeskripsian karakteristik kesantunan diasumsikan tercapai melalui analisis yang dilakukan secara kontekstual terhadap 109 pemakaian maksim dalam 4 episode. Tayangan podcast dalam 4 episode menunjukkan bahwa situasi santai pembicaraan sebagai peristiwa tutur menuntut penutur dan mitra tutur (pemandu acara dan bintang tamu) menggunakan ragam bahasa pergaulan yang humoris. Kenyataan ini memunculkan pelanggaran-pelanggaran maksim sehingga dikategorikan tidak santun. Namun demikian ketidaksantunan berbahasa dalam situasi santai dan humoris tidak menghambat proses komunikasi yang efektif. Analisis terhadap pemakaian maksim menghasilkan simpulan bahwa maksim kebijaksanaan menempati posisi teratas dalam penelitian maksim dengan persentasi 34% diikuti maksim simpati 26,5%, maksim pujian 23%, maksim kerendahan hati 6,5%, maksim kedermawanan 5,5%, maksim kesepakatan 4,5%. Kesantunan berbahasa ditentukan oleh pematuhan dan pelanggaran maksim. Hasil analisis menunjukkan simpulan bahwa pematuhan maksim terdapat pada maksim kebijaksanaan. Pelanggaran maksim terbanyak juga terdapat pada maksim ini yakni 37,8%. Peristiwa tutur dalam podcast banyak yang menunjukkan ketidaksantunan, namun komunikasi berlangsung komunikatif karena berada pada konteks santai dan humor. Hasil penelitian layak dijadikan bahan ajar sebagai contoh pemakaian bahasa santun dan tidak santun.Kata Kunci: kesantunan, maksim, pematuhan, pelanggaran
Copyrights © 2025