Penelitian ini bertujuan membandingkan kualitas terjemahan Qaṣīdat al-Burdah karya Imam al-Būṣīrī antara penerjemah manusia (Abdullah Azzam bin Azlan) dan mesin (DeepL Translator). Metode yang digunakan adalah deskriptif kualitatif dengan pendekatan komparatif pada sepuluh bait yang dipilih secara purposif, dinilai berdasarkan keakuratan dan keberterimaan menurut model Nababan dkk. (2012) oleh dua pakar. Hasil menunjukkan bahwa terjemahan Abdullah Azzam lebih unggul dalam keberterimaan karena mampu mempertahankan nuansa budaya, nilai religius, dan estetika bahasa, sedangkan DeepL sedikit lebih konsisten pada keakuratan leksikal namun cenderung literal dan kaku. Kesimpulannya, penerjemahan teks religius dan sastra klasik tetap memerlukan sensitivitas manusia, sementara mesin lebih tepat digunakan sebagai alat bantu.
Copyrights © 2025