Di era digital saat ini, peserta didik dituntut memiliki kompetensi abad 21 seperti berpikir kritis, kreatif, mampu bekerja sama, dan berkomunikasi efektif. Kurikulum Merdeka hadir sebagai upaya pendidikan di Indonesia yang memberikan ruang fleksibel bagi siswa untuk berkembang secara lebih mandiri dan aktif. Artikel ini merupakan kajian literatur yang membahas peran penting pembelajaran observasional dan vikarius dalam mendukung pencapaian kompetensi tersebut, dengan mengacu pada Teori Kognitif Sosial dari Albert Bandura. Melalui penelusuran berbagai penelitian terdahulu, ditemukan bahwa proses belajar melalui pengamatan terhadap model yang positif (seperti guru, tean, atau tokoh inspiratif) memiliki pengaruh besar terhadap motivasi, efikasi diri, dan penguasaan keterampilan siswa. Selain itu, pembelajaran vikarius di mana siswa belajar dari pengalaman dan konsekuensi yang dialami orang lain terbukti mampu memperkuat kemampuan mengatur diri dan beradaptasi. Hasil kajian menunjukkan bahwa integrasi pengalaman observasional dan vikarius secara terencana dalam Kurikulum Merdeka mampu mendukung perkembangan kognitif, afektif, dan psikomotorik siswa. Oleh karena itu, sangat penting bagi guru untuk merancang pembelajaran yang memberi ruang bagi siswa mengamati, meniru, dan merefleksikan perilaku positif. Artikel ini merekomendasikan pelatihan guru agar dapat menciptakan lingkungan belajar yang kaya akan model dan pengalaman sosial yang bermakna untuk membekali siswa menghadapi tantangan zaman.
Copyrights © 2025