Ibadah haji sejak masa kolonial memiliki arti penting bagi umat Islam di Nusantara, namun penyelenggaraannya kerap terhambat oleh kebijakan represif Belanda. Muhammadiyah, sejak berdirinya pada 1912, menunjukkan kepedulian terhadap pelayanan haji dengan mengusulkan perbaikan kepada pemerintah kolonial. Inisiatif ini mencerminkan komitmen Muhammadiyah dalam membela kepentingan umat, bahkan di tengah keterbatasan masa penjajahan. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis alasan, kontribusi, proses pelayanan, dan tantangan yang dihadapi Muhammadiyah dalam melayani jemaah haji Indonesia pada masa kolonial (1912–1945), serta mengungkap dampaknya terhadap penyelenggaraan ibadah haji secara historis. Penelitian ini menggunakan metode sejarah dengan tahapan utama meliputi heuristik, kritik sumber, interpretasi, dan historiografi. Data dikumpulkan melalui sumber primer seperti dokumen kolonial, arsip Muhammadiyah, serta artikel surat kabar dan majalah periode 1912–1945, dan dilengkapi dengan sumber sekunder seperti buku, jurnal, dan laporan ilmiah. Hasil penelitian ini menyimpulkan bahwa: (1) Muhammadiyah memandang penting keterlibatannya dalam pelayanan jemaah haji karena menyaksikan ketimpangan dan ketidakadilan yang dialami umat Islam pribumi dalam menjalankan ibadah haji pada masa kolonial, seperti kurangnya bimbingan, lemahnya perlindungan, serta eksploitasi oleh para makelar. (2) Sebagai gerakan dakwah dan pembaruan, Muhammadiyah menunjukkan kontribusinya melalui berbagai inisiatif seperti usulan resmi kepada pemerintah kolonial, pembentukan Bagian Penolong Haji, penyelenggaraan manasik yang sistematis, dan pendampingan administrasi dan spiritual.
Copyrights © 2025