Di Indonesia, malaria, demam berdarah dengue (DBD), dan demam tifoid merupakan penyakit infeksi endemik yang masih menjadi masalah kesehatan masyarakat utama. Data Kementerian Kesehatan 2025, menunjukkan tingginya angka kejadian ketiga penyakit ini, terutama di wilayah Papua, Bali, dan daerah perkotaan, yang meningkatkan risiko terjadinya koinfeksi dan memperumit diagnosis serta pengobatan. Dilaporkan kasus seorang pria berusia 18 tahun dengan keluhan demam tinggi, nyeri kepala, mual, dan trombositopenia. Pemeriksaan serologis dan laboratorium awal mengindikasikan infeksi DBD dan tifoid. Pemantauan rutin dan pemeriksaan darah tepi dilakukan dan terdeteksi koinfeksi malaria. Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa demam dan trombosit pasien tetap turun meskipun telah diberikan terapi suportif dan antibiotik. Pemeriksaan darah tepi mengonfirmasi infeksi Plasmodium falciparum, sehingga terapi antimalaria dengan Dihidroartemisinin-Piperaquine dan Primaquine ditambahkan. Setelah terapi komprehensif dan pemantauan ketat, kondisi pasien membaik dengan normalisasi tanda vital dan peningkatan trombosit. Berdasarkan penelitian ini disimpulkan bahwa Koinfeksi malaria, DBD, dan tifoid di Indonesia merupakan kondisi langka namun membutuhkan perhatian khusus. Diagnosis sistematis dan pemantauan intensif sangat penting untuk pengobatan efektif dan mencegah komplikasi. Kesadaran klinis terhadap kemungkinan infeksi multipel pada pasien demam di daerah endemik dapat meningkatkan prognosis dan mengoptimalkan manajemen pasien.
Copyrights © 2025