Konflik antara orang Efraim dan orang Gilead dalam Hakim-Hakim 12:1-7 merefleksikan tragisnya perang antar kelompok. Masalah utama tulisan ini adalah bagaimana memahami narasi tersebut dalam konteks pluralitas masyarakat Indonesia yang rentan dengan konflik antar suku dan antar agama. Penafsiran teologis-etik terbatas pada kritik sikap tokoh-tokoh berdasarkan gagasan doktrinal keagamaan dan belum meretas konflik. Tafsir politis-ideologis mengkritisi paradigma penulis teks dengan mangemansipasi ideologi yang direduksi, atau menegaskan ideologi penulis, tetapi belum cukup mengatasi akar konflik dalam teks. Pembacaan kritik linguistik merekonstruksi paradigma politik-kultural teks tetapi tidak memperhatikan aspek politik-teologis yang menjadi salah satu akar konflik. Tulisan ini memperlihatkan bagaimana mentalitas dikotomis dan pelabelan memengaruhi pandangan sosio-politis-teologis kelompok-kelompok dalam teks. Pembacaan ini memanfaatkan gagasan Fernando F. Segovia dan Gale A.Yee tentang kritik postkolonial dengan teori dikotomi dan pelabelan Edward Said sebagai lensa. Mentalitas tersebut selanjutnya didekonstruksi untuk meretas kekerasan yang diformulasi oleh teks dan memperlihatkan relevansinya dalam konteks politik Indonesia yang majemuk.
Copyrights © 2025