Pekerja anak masih menjadi persoalan serius di berbagai negara berkembang, termasuk Indonesia, karena berdampak pada hilangnya hak-hak dasar anak seperti pendidikan, waktu bermain, dan pertumbuhan yang optimal. Penelitian ini bertujuan untuk mengkaji karakteristik pekerja anak di Indonesia berdasarkan umur, tingkat pendidikan, tempat tinggal, jenis kelamin, dan sektor pekerjaan. Data yang digunakan bersumber dari Survei Ketenagakerjaan Nasional (Sakernas) dalam rentang lima tahun terakhir. Metode yang digunakan adalah analisis deskriptif kuantitatif untuk menggambarkan kondisi aktual pekerja anak. Penelitian ini menggunakan perspektif teori struktural-fungsional Robert K. Merton guna menjelaskan ketidakseimbangan dalam struktur sosial yang memicu keterlibatan anak dalam dunia kerja. Hasil penelitian menunjukkan bahwa pekerja anak di Indonesia mencakup kelompok usia sangat muda (5–12 tahun) hingga remaja awal (13–14 tahun), dengan peningkatan tertinggi terjadi pada tahun 2020 dan penurunan pada tahun-tahun berikutnya. Sebagian besar pekerja anak berasal dari wilayah pedesaan, tidak lagi mengenyam pendidikan formal, dan bekerja di sektor jasa informal seperti pembantu rumah tangga, buruh angkut, serta buruh pertanian. Temuan ini menunjukkan adanya kerentanan struktural yang memperkuat reproduksi pekerja anak lintas generasi. Penelitian ini merekomendasikan perlunya reformasi institusi keluarga, penyediaan akses pendidikan yang inklusif, serta intervensi kebijakan sosial secara holistik dan berkelanjutan untuk memutus siklus pekerja anak di Indonesia.
Copyrights © 2025