Claim Missing Document
Check
Articles

Found 14 Documents
Search

Ritus Sedekah Laut sebagai Mekanisme Sosial Masyarakat Nelayan Urban di Muarareja Kota Tegal Amanatin, Elsa Lutmilarita; Sekarningrum, Bintarsih; Supangkat, Budiawati
Ganaya : Jurnal Ilmu Sosial dan Humaniora Vol 7 No 3 (2024)
Publisher : Jayapangus Press

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.37329/ganaya.v7i3.3376

Abstract

The tradition of Sedekah Laut in Muarareja, Tegal City, is a crucial aspect of the social and cultural life of urban fishing communities. This tradition not only holds religious significance but also plays a vital role in maintaining collective identity and social cohesion amidst rapid social and economic changes. This study aims to elucidate how the ritual of Sedekah Laut in Muarareja functions as a social mechanism among urban fishing communities. Employing a qualitative approach, the research utilized semi-structured interviews with 7 urban fishermen and 3 community members from Muarareja, direct observations, and documentary analysis for data collection. Findings indicate that Sedekah Laut serves not only as a religious ceremony but also as a manifestation of strong social solidarity and sustainable social networks within the fishing community. The study concludes that firstly, Sedekah Laut plays a crucial role in preserving the cultural continuity and community identity of fishermen in Muarareja; secondly, it strengthens social relations among individuals and groups within the community; thirdly, the ritual demonstrates its adaptability and relevance amidst the dynamic social and economic changes along the coastal region. This research provides a foundation for understanding how local traditions can support social and cultural sustainability in continuously transforming coastal communities. The study recommends further interdisciplinary research to deepen understanding of the impacts and significance of this tradition in an evolving global context.
Analisis Dampak Pembangunan Jalan Lingkar Utara (Jalingkut) Bagi Kehidupan Sosial-Ekonomi Masyarakat Kawasan Tegal-Brebes Amanatin, Elsa Lutmilarita; Nurwati, Nunung
Sosioglobal Vol 8, No 1 (2023): Sosioglobal: Jurnal Pemikiran dan Penelitian Sosiologi
Publisher : Department of Sociology, Faculty of Social and Political Science, Universitas Padjadjaran

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24198/jsg.v8i1.47597

Abstract

ABSTRAKPenelitian ini dilatarbelakangi adanya proyek pembangunan jaringan jalan baru non-tol yang disebut Jalan Lingkar Utara (Jalingkut) di kawasan Tegal-Brebes. Dalam praktiknya, pembangunan jalan baru senantiasa diindikasikan sebagai wujud pendorong kemajuan ekonomi nasional guna memudahkan berlangsungnya proses distribusi antar wilayah. Jalingkut merupakan satu diantara upaya pemerintah pusat dan daerah untuk melancarkan gerak pertumbuhan ekonomi, utamanya mendukung kelancaran industrialisasi. Artikel hasil penelitian ini bertujuan menganalisis lebih lanjut terkait Jalingkut dalam berkontribusi  merealisasikan integrasi pertumbuhan ekonomi dalam negeri yang akan mempengaruhi pemeringkatan klasifikasi negara di kancah internasional dengan dikaji berdasar pada teori milik Wallerstein, Sistem Dunia. Penelitian ini juga bertujuan untuk mengetahui dampak tidak langsung dari Jalingkut terhadap kehidupan sosial ekonomi masyarakat sekitar. Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah metode kualitatif dengan sumber data yang diperoleh melalui observasi, wawancara, dan studi pustaka. Hasil penelitian menunjukkan bahwa dibangunnya Jalingkut memberikan peluang besar bagi pertumbuhan ekonomi nasional nantinya, Jalingkut berpotensi untuk mengurangi kepadatan dan kemacetan di jalan Pantura, selain itu hadirnya Jalingkut yang sekaligus menjadi jalan arteri nasional membawa pengaruh perubahan sosial ekonomi bagi masyarakat di antara kedua kawasan Jalingkut di bangun, yakni daerah Tegal dan Brebes. Kata Kunci: Dampak Pembangunan, Jalingkut, Sosial-Ekonomi, Teori Sistem DuniaABSTRACT This research is motivated by the existence of a development project called North Ring Road (Jalingkut) in the Tegal-Brebes area. The construction of new roads is always indicated as a form of encouragement for national economic progress in order to facilitate the distribution process between regions. Jalingkut is one of the efforts by central and regional governments to accelerate the movement of economic growth, primarily to support industrialization. The article of this study aims to further analyze Jalingkut in contributing integration of domestic economic growth which will affect the ranking of country classifications in the international arena by studying it based on Wallerstein's theory, the World System. This article determine the indirect impact of Jalingkut on the socio-economic life of the surrounding community. The method used in this study is a qualitative method with data sources obtained through observation, interviews, and literature study. The results show that Jalingkut construction provides great opportunities for future national economic growth, Jalingkut has the potential to reduce congestion on Pantura Road, besides that the presence of Jalingkut which is also a national artery road that has an impact on socio-economic changes for the community between Jalingkut area, that is Tegal and Brebes areas. Keywords: Development Impact, Jalingkut, Socio-Economic, World System Theory
Dampak Disorganisasi Terhadap Pemilihan Bacaan Fiksi Boyxboy Di Kalangan Remaja Penggemar K-Pop Amanatin, Elsa Lutmilarita; Gunawan, Wahyu; Zakaria, Saefullah; Lesmana, Aditya Candra
Sosioglobal Vol 8, No 1 (2023): Sosioglobal: Jurnal Pemikiran dan Penelitian Sosiologi
Publisher : Department of Sociology, Faculty of Social and Political Science, Universitas Padjadjaran

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24198/jsg.v8i1.48310

Abstract

ABSTRAK  Digitalisasi telah membawa pengaruh pada berkembangnya K-Pop hari ini. Hal itu kemudian mengantarkan pada masalah baru berupa tingginya peminat bacaan karya fiksi penggemar bernuansa BoyxBoy di Indonesia. Penelitian ini bertujuan untuk melihat dampak disorganisasi sosial yang terjadi akibat masuknya budaya K-Pop tersebut pada tingginya minat remaja terhadap bacaan fiksi sesama jenis dengan dianalisis melalui teori disorganisasi sosial Robert E. Park. Penelitian ini menggunakan metode kualitatif dengan teknik pengumpulan data yang dilakukan melalui wawancara terhadap 4 informan, observasi di situs maya, dan studi dokumentasi. Hasil penelitian menunjukkan bahwa membaca bacaan fiksi BoyxBoy dilakukan sebagai wujud mengagumi idola dengan menolak mereka memiliki hubungan romansa dengan lawan jenis karena hanya akan menyakiti hati mereka. Pemilihan bacaan BoyxBoy ternyata tidak lantas membuat remaja ingin melakukan penyimpang seksual dengan menyukai sesama jenis. Namun, apabila nanti idola menjadi gay maka mereka akan dengan senang hati merelakan dan mendukungnya seratus persen. Analisis teori disorganisasi sosial Robert E. Park kemudian menunjukkan bahwa nilai dan norma keagamaan yang melarang mendukung hubungan sesama jenis pada diri remaja pembaca fiksi BoyxBoy kemudian juga mulai memudar seiring dengan munculnya penerimaan tersebut.ABSTRACT  Digitalization has had an impact on the development of K-Pop today. This then led to a new problem in the form of high interest in reading BoyxBoy fanfiction in Indonesia. This study aims to see the impact of social disorganization that occurs due to the introduction of K-Pop culture on the high interest of adolescents in reading same-sex fiction by analyzing it through Robert E. Park's social disorganization theory. This study uses a qualitative method with data collection techniques carried out through interviews with 4 informants, observations on virtual sites, and documentation studies. The results showed that reading BoyxBoy fiction was done as a form of admiring idols by refusing them to have romantic relationships with the opposite sex because it would only hurt them. BoyxBoy's choice of reading does not necessarily make teenagers want to commit sexual deviance by liking the same sex. However, if later idols become gay, they will be happy to give some support one hundred percent. Analysis of Robert E. Park's theory of social disorganization then shows that religious values and norms that prohibit supporting same-sex relationships among young readers of BoyxBoy's fiction then also begin to fade along with the emergence of this acceptance.
Causes and Forms of Cyberbullying among Teenagers in Indonesian Urban Areas: Cases of Jakarta, Bandung and Surabaya Amanatin, Elsa Lutmilarita; Sekarningrum, Bintarsih
JISPO Jurnal Ilmu Sosial dan Ilmu Politik Vol. 13 No. 2 (2023): Vol. 13 No. 2, 2023
Publisher : Faculty of SociaI and Political Sciences (FISIP), Universitas Islam Negeri (UIN) Bandung

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.15575/jispo.v13i2.27792

Abstract

The development of digitalization has had an impact on the increasing cases of cyberbullying among Indonesian youth, especially in urban areas such as Jakarta, Surabaya, and Bandung. This article finds out why teenagers in urban areas are rampant in carrying out cyberbullying behavior. The existing studies were examined to map the causes and forms of cyberbullying experienced by teenagers in the three cities by applying inclusion and exclusion criteria. Employing Anthony Giddens structuration theory, this article reveals that cyberbullying among urban teenagers is the impact of the relationship between agents and structures that shape social reality. In Jakarta, cyberbullying has emerged as a result of the lack of social support from peers and the low emotional intelligence that teenagers have. In Surabaya, cyberbullying arose as a result of lack of self-control and parental evaluation mediation, low self-esteem, and a strong desire for self-recognition in order to show their power. In Bandung, cyberbullying arose as a result of the anonymity and authoritarian pattern of parental care.
Simbol, Makna, dan Solidaritas: Strategi Digital Komunitas Urban di Indonesia dalam Membangun Eksistensi di Instagram Firsanty, Farah Putri; Amanatin, Elsa Lutmilarita; Adiansah, Wandi
Jurnal Sosiologi USK (Media Pemikiran & Aplikasi) Vol 19, No 1 (2025)
Publisher : Sociology Department Of Syiah Kuala University

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24815/jsu.v19i1.46255

Abstract

Digitalization has spurred the emergence of diverse online communities in urban spaces, however, the dynamics of their existence and sustainability remain underexplored. This study aims to address the question: How are the dynamics of the existence of online communities in Indonesia formed and sustained through digital practices? To answer this, a qualitative approach is employed using netnography, a method specifically designed to observe community practices within digital environments. The research involves observations of six Instagram accounts belonging to social communities actively engaged in poverty alleviation issues: @mataharikecil_id, @satoeatap, @sschildsurabaya, @kpajmakassar, @rmhpelangi, and @ytsb_official.The findings reveal that social media, particularly Instagram, plays a significant role in establishing community presence while also attracting public participation through donations and volunteer recruitment. These communities utilize Instagram as a space for symbolic interaction, crafting a credible and emotionally resonant image that fosters public trust. This image is constructed through a combination of visual content, persuasive narratives, informational transparency, and active engagement with audiences. Through these strategies, the communities are able to forge strong digital social relations and expand their networks of solidarity. This study demonstrates that the presence of digital communities is not solely determined by their online visibility, but also by their ability to construct shared meanings with the public as participatory actors.AbstrakDigitalisasi telah mendorong munculnya beragam komunitas online di ruang-ruang urban, namun dinamika eksistensi dan keberlanjutannya masih jarang dikaji secara mendalam. Penelitian ini bertujuan menjawab pertanyaan: bagaimana dinamika eksistensi komunitas online di Indonesia terbentuk dan dipertahankan melalui praktik digital? Untuk itu, studi ini menggunakan pendekatan kualitatif melalui metode netnografi, yang secara khusus diarahkan untuk mengamati praktik komunitas dalam ruang digital. Observasi dilakukan terhadap enam akun Instagram komunitas sosial yang aktif di isu pengentasan kemiskinan: @mataharikecil_id, @satoeatap, @sschildsurabaya, @kpajmakassar, @rmhpelangi, dan @ytsb_official. Temuan menunjukkan bahwa media sosial, khususnya Instagram berperan signifikan dalam membangun eksistensi komunitas sekaligus menarik partisipasi publik, baik melalui donasi maupun rekrutmen relawan. Komunitas memanfaatkan Instagram sebagai ruang interaksi simbolik untuk membentuk citra yang kredibel dan menyentuh secara emosional, yang pada gilirannya menumbuhkan kepercayaan publik. Citra tersebut dibangun melalui kombinasi konten visual, narasi ajakan, transparansi informasi, serta interaksi aktif dengan audiens. Melalui strategi ini, komunitas mampu menciptakan relasi sosial digital yang kuat dan memperluas jaringan solidaritas. Studi ini memperlihatkan bahwa keberadaan komunitas digital tidak hanya ditentukan oleh kehadiran daring, tetapi juga oleh kemampuan mereka dalam membangun makna bersama dengan publik sebagai aktor partisipatif.
Economic Dynamics of Urban Fishermen in Muarareja: The Death of Fish Auction Places Amanatin, Elsa Lutmilarita; Sekarningrum, Bintarsih; Supangkat, Budiawati
Jurnal Sosiologi USK (Media Pemikiran & Aplikasi) Vol 18, No 1 (2024)
Publisher : Sociology Department Of Syiah Kuala University

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24815/jsu.v18i1.39932

Abstract

This study examines the closure of the Fish Auction Place (TPI) in Muarareja, which was caused by debt agreements between fishermen and fish traders for boat purchases. The closure of the TPI has led to fishermen losing access to a competitive sales platform and becoming dependent on the traders' markets. The research method used was qualitative with a case study approach, through semi-structured interviews, direct observation, and documentation. The research participants included 6 skippers or fishermen who own ships, 5 crew members (ABK), 6 collectors or traders, and 3 mothers who make salted fish around the TPI. Data collection was carried out from June 1 to August 28, 2023. The purpose of the study was to analyze changes in the dynamics of patron-client relationships among fishermen in Muarareja and to examine the economic and social impacts of the closure of the TPI. The results showed that the closure of the TPI changed the mechanism of buying and selling fish to be more closed to patrons (traders), which significantly affected the social and economic dynamics of urban fishermen. Based on these findings, it is recommended to examine the effectiveness of alternative programs such as fishermen's cooperatives or micro-loans, and further research is needed on the revitalization of the TPI to improve the overall welfare of fishermen. In the context of public policy, it is also necessary to consider strategies that strengthen the capacity of fishermen in facing increasingly complex global economic challenges. This research is expected to provide significant theoretical and practical contributions to the field of sociology, especially economic sociology.
Interplay of modernity, symbolism, and religious practice in Cirebon’s death rituals Nurwati, Nunung; Yunita, Desi; Amanatin, Elsa Lutmilarita; Wibowo, Hery; Bustami, Mohammad Reevany
SIMULACRA: JURNAL SOSIOLOGI Vol 8, No 2: 2025
Publisher : Center for Sociological Studies and Community Developmen

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21107/sml.v8i2.31922

Abstract

This study examines the persistence of death rituals in Cirebon amid the pressures of modernity, focusing on how these practices continue to hold deep social and spiritual significance within the community. The research explores how changing values and economic challenges, particularly concerning food preparation and distribution during post-funeral events such as tahlilan and slametan, reflect tensions between religious teachings that discourage wastefulness and local beliefs surrounding purity and respect for the deceased. Employing a qualitative case study design, fieldwork was conducted in Trusmi Village, Cirebon, through in-depth interviews and participant observation involving ritual custodians (kuncen), family members, community leaders, and elders. Data were analyzed thematically via Blumer’s social action theory to interpret how symbols, social meanings, and modernization interact in shaping ritual practices. Findings reveal that while death rituals maintain their function as expressions of religiosity and social solidarity, modern consumerist tendencies have transformed certain practices into displays of prestige, often leading to food waste. The study calls for cultural adaptation and education to align these traditions with Islamic principles of moderation (wasatiyyah) and sustainability, reducing waste while reaffirming the rituals’ essence as expressions of piety, compassion, and solidarity, ensuring they remain spiritually meaningful and socially relevant in Cirebon society.
TREND POSITIF: LEWAT GERAKAN HIJAU DAN KREATIVITAS MEMASAK PADA KELOMPOK REMAJA DI DESA DAYEUHKOLOT KABUPATEN BANDUNG Yunita, Desi; Lesmana, Aditya Candra; Wibowo, Heri; Amanatin, Elsa Lutmilarita
Kumawula: Jurnal Pengabdian Kepada Masyarakat Vol 8, No 3 (2025): Kumawula: Jurnal Pengabdian Kepada Masyarakat
Publisher : Universitas Padjadjaran

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24198/kumawula.v8i3.62822

Abstract

Remaja berada dalam fase perkembangan yang penuh tantangan, terutama saat menghadapi dilema pilihan hidup dan risiko seperti putus sekolah dan keterbatasan biaya pendidikan. Kegiatan pengabdian ini bertujuan memberikan edukasi untuk memperkuat dan memotivasi cara berpikir remaja melalui pola tren positif, yang diwujudkan dalam praktik hulu-hilir berbasis potensi dan permasalahan sosial, dengan fokus pada gerakan hijau dan kreativitas memasak. Pendekatan yang digunakan melihat persoalan remaja sebagai bagian dari masyarakat berisiko. Namun, risiko tersebut dapat diprediksi dan diupayakan penyelesaiannya. Metode pengabdian dilakukan melalui pemetaan sosial sederhana, dilanjutkan dengan analisis sebab-akibat dari permasalahan remaja. Selanjutnya, ditentukan tahapan pengabdian dengan mengangkat tema tren positif serta memberikan informasi dan strategi program penyetaraan pendidikan serta peluang beasiswa. Hasil dari kegiatan ini terlihat dari partisipasi aktif dan respons positif para remaja selama proses edukasi berlangsung. Remaja di Desa Dayeuhkolot memperoleh gagasan baru dalam melihat persoalan dan peluang, serta memiliki cara pandang yang lebih konstruktif dalam mengatasi permasalahan yang mereka hadapi.
MEMBANGUN SPIRAL PENGASUHAN BERBASIS KONSEP KAPABILITAS SPIRITUAL MELALUI PEMBENTUKAN TENAGA PENYULUH PENGASUHAN KADER POSYANDU DESA CILELES KABUPATEN SUMEDANG JAWA BARAT Wibowo, Hery; Nurwati, Nunung; Yunita, Desi; Firsanty, Farah Putri; Amanatin, Elsa Lutmilarita; Lesmana, Aditya Candra; Gunawan, Wahyu; Sekarningrum, Bintarsih; Nugraha, Ardi Maulana
Sawala : Jurnal pengabdian Masyarakat Pembangunan Sosial, Desa dan Masyarakat Vol 7, No 1 (2026): Sawala : Jurnal pengabdian Masyarakat Pembangunan Sosial, Desa dan Masyarakat
Publisher : Universitas Padjadjaran

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24198/sawala.v7i1.67955

Abstract

ABSTRAKKrisis keluarga sebagai bagian dari krisis multidimensional bangsa menuntut pendekatan pengasuhan yang lebih mendalam dan transformatif. Program pengabdian masyarakat ini bertujuan membangun spiral pengasuhan berbasis kapabilitas spiritual melalui pembentukan tenaga penyuluh pengasuhan dari kader Posyandu di Desa Cileles, Kabupaten Sumedang, Jawa Barat. Desa Cileles, sebagai wilayah perdesaan yang bersinggungan langsung dengan kampus Universitas Padjadjaran, dipilih sebagai lokus intervensi karena potensi strategisnya dan kebutuhan akan penguatan kapasitas sosial non-fisik. Program ini mengintegrasikan konsep kapabilitas spiritual sebagai fondasi pengasuhan, dengan materi berbasis pandangan alam Islam dan konsep yang dikembangkan penulis yaitu kapabilitas spiritual yang meliputi penguatan kompetensi berbasis ruh, aql, nafs dan qalb. Melalui pelatihan intensif, kader Posyandu dibekali kompetensi sebagai penyuluh pengasuhan yang mampu mendampingi orang tua dalam memahami peran mendidik anak secara holistik, meliputi aspek fisik, psikis, dan spiritual. Intervensi ini tidak hanya memperkuat fungsi Posyandu sebagai wadah pemberdayaan masyarakat, tetapi juga membentuk ekosistem pengasuhan yang berkelanjutan dan berakar pada nilai-nilai lokal. Program pelatihan di lapangan telah dilaksanakan sebanyak tujuh pertemuan dalam kurun waktu sekitar tujuh bulan. Peserta merupakan perwakilan kader posyandu dari lebih dari 12 Rukun Warga Desa Cileles, yang ditargetkan dapat memberikan penyuluhan pengasuhan pada ragam agenda posyandu. Selain pelatihan langsung di lapangan, program ini juga menyediak video pembelajaran dan bahan artikel singkat pendukung, untuk menguatkan pemahaman peserta. Kata kunci: kapabilitas spiritual, pengasuhan anak, kader Posyandu, pemberdayaan desa, pendidikan ruhani                                                                          ABSTRACTThe family crisis, as a facet of the nation’s broader multidimensional crisis, demands a deeper and more transformative approach to parenting. This community engagement program aims to develop a spiral model of parenting grounded in spiritual capability by training parenting facilitators from Posyandu cadres in Cileles Village, Sumedang Regency, West Java. Cileles, a rural area adjacent to Universitas Padjadjaran’s northern campus, was selected as the intervention site due to its strategic potential and the urgent need to strengthen non-physical social capacities. The program integrates the concept of spiritual capability as the foundation of parenting, drawing upon an Islamic worldview and a framework developed by the authors that encompasses the strengthening of competencies rooted in ruh (spirit), aql (intellect), nafs (self), and qalb (heart). Through intensive training, Posyandu cadres were equipped to serve as parenting facilitators capable of guiding parents in understanding their educational role holisticallyaddressing physical, psychological, and spiritual dimensions. This intervention not only enhances the function of Posyandu as a community empowerment platform but also cultivates a sustainable parenting ecosystem anchored in local values. The field training was conducted over seven sessions across approximately seven months. Participants included Posyandu representatives from more than 12 neighborhood units (Rukun Warga) in Cileles Village, with the goal of enabling them to deliver parenting education through various Posyandu activities. In addition to in-person training, the program provided recorded video lessons and concise supporting articles to reinforce participants’ understanding.  Keyword: spiritual capabilities, childcare, Posyandu cadres, village empowerment, spiritual education
Ekologi Sosial Pesisir: Peran Intergenerasional Keluarga Dalam Menjaga Mangrove Di Pesisir Indramayu Nurwati, Nunung; Fedryansyah, Muhammad; Yunita, Desi; Amanatin, Elsa Lutmilarita; Sudrajat, Ade
Sosioglobal : Jurnal Pemikiran dan Penelitian Sosiologi Vol 10, No 1 (2025): Sosioglobal: Jurnal Pemikiran dan Penelitian Sosiologi
Publisher : Department of Sociology, Faculty of Social and Political Science, Universitas Padjadjaran

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24198/jsg.v10i1.67835

Abstract

ABSTRAK  Penelitian ini mengkaji dinamika ekologi sosial keluarga pesisir di Indramayu dalam menjaga kelestarian hutan mangrove melalui peran lintas generasi. Berbeda dari penelitian sebelumnya yang lebih menyoroti aspek kelembagaan atau kebijakan konservasi, penelitian ini menawarkan kebaruan dengan menempatkan keluarga sebagai pusat analisis ekologi sosial. Pendekatan kualitatif deskriptif digunakan untuk menelusuri bagaimana nilai gotong royong (sabilulungan), pewarisan pengetahuan ekologis, dan solidaritas antar generasi membentuk praktik pelestarian mangrove yang berkelanjutan. Data diperoleh melalui wawancara mendalam, observasi partisipatif, dan dokumentasi di kawasan pesisir Karangsong, Pasekan, dan Brondong. Hasil penelitian menunjukkan bahwa keluarga memainkan peran kunci dalam membangun kesadaran ekologis, menghubungkan nilai tradisional dengan adaptasi modern melalui kegiatan konservasi, ekonomi lokal, dan ekspresi digital generasi muda. Sintesis teoritis dalam penelitian ini menghasilkan model ekologi sosial berbasis keluarga, yang menegaskan bahwa keberlanjutan lingkungan pesisir tidak hanya bergantung pada kebijakan atau intervensi eksternal, tetapi juga pada kekuatan nilai sosial, solidaritas lintas generasi, dan kesadaran ekologis yang tertanam dalam keluarga.Kata kunci: Ekologi Sosial, Keluarga Pesisir, Intergenerasional, Mangrove, SabilulunganABSTRACT  This study explores the dynamics of coastal families’ social ecology in Indramayu and their intergenerational roles in conserving mangrove forests. Unlike previous studies focusing on institutional or policy dimensions, this research offers novelty by positioning the family as the core of social-ecological analysis. Using a qualitative descriptive approach, it investigates how local values of sabilulungan (mutual cooperation), ecological knowledge transmission, and intergenerational solidarity shape sustainable mangrove conservation practices. Data were collected through in-depth interviews, participatory observation, and documentation in the coastal areas of Karangsong, Pasekan, and Brondong. Findings reveal that families act as key agents in fostering ecological awareness, connecting traditional values with modern adaptations through conservation activities, local economic initiatives, and youth-led digital expressions. The theoretical synthesis formulates a family-based social ecology model, emphasizing that coastal environmental sustainability depends not only on policies or external interventions but also on the strength of social values, intergenerational solidarity, and ecological consciousness embedded within families.Keywords: Social Ecology, Coastal Family, Intergenerational, Mangrove, Sabilulungan