Artikel ini membahas terbentuknya monopoli perdagangan gandum di Indonesia pada masa orde Baru. Penelitian ini fokus pada peran Bulog, pemerintah, dan konglomerat Tionghoa-Indonesia, khususnya Salim Grup. Penelitian ini juga melihat kebijakan pangan, hak eksklusif, dan subsidi besar yang memberikan keuntungan tersembunyi bagi Bogasari. Dalam konteks ini dinamika hubungan Soeharto dengan Liem Sioe Liong, rivalitas antara Bogasari dan PT. Prima, sistem distribusi tepung terigu, dan penetapan harga yang dikendalikan pemerintah menjadi salah satu pokok pembahasan. Penelitian ini merupakan sebuah penelitian sejarah yang memanfaatkan sumber utamanya dari surat kabar kompas dan arsip nasional. Selain itu, penelitian ini juga memanfaatkan sumber-sumber sekunder dari buku, artikel, dan skripsi untuk memberikan latar belakang monopoli perdagangan gandum di Indonesia. Berdasarkan kajian yang dilakukan, diperoleh kesimpulan bahwa monopoli gandum bukan hanya berdampak pada struktur ekonomi pangan, tetapi juga memperkuat integrasi vertikal Salim grup dalam industri berbasis gandum (mie instan, biskuit, hingga ritel). Penelitian ini menegaskan bahwa kebijakan pangan orde Baru membentuk sebuah pola ketergantungan impor, memperbesar peran konglomerat, dan membentuk sistem ekonomi-politik pangan yang berkaitan dengan kolusi, korupsi, dan nepotisme.
Copyrights © 2025