Kecacingan merupakan permasalahan kesehatan masyarakat yang umum ditemukan di daerah tropis akibat infeksi Soil Transmitted Helminths (STH) terutama cacing nematoda usus yang penularannya terjadi melalui tanah. Diagnosis kecacingan umumnya menggunakan metode natif dengan pewarna eosin. Namun, eosin bersifat toksik sehingga menimbulkan pencemaran lingkungan. Maka dari itu, dibutuhkan pewarna lain yang alami. Salah satu pewarna alami adalah bayam merah (Amaranthus tricolor L) dengan kandungan antosianin, senyawa pigmen merah yang bersifat antioksidan. Penelitian ini dilaksanakan agar mengetahui kualitas pewarnaan telur cacing STH mempergunakan pewarnaan alternatif bayam merah berdasarkan waktu penyimpanan pewarnaan. Penelitian bersifat eksperimental dengan desain Static Group Comparison. Sampel berupa feses positif telur cacing STH diuji menggunakan 6 kali pengulangan untuk masing-masing waktu penyimpanan 0, 6, dan 24 jam, serta dibandingkan dengan pewarnaan eosin 2%. Data dianalisis mempergunakan uji Kruskal-Wallis dan Mann- U Whitney. Perolehan penelitian memperlihatkan adanya perbedaan signifikan antara pewarnaan bayam merah berdasarkan waktu penyimpanan 0, 6, dan 24 jam dengan nilai (p= 0,000 < 0,05). Namun, tidak ada perbedaan signifikan antara pewarnaan bayam merah 0 jam dan eosin 2% dengan nilai (p=1,000 > 0,05). Disimpulkan bahwa air perasan bayam merah penyimpanan 0 jam mempunyai kualitas yang baik dalam mewarnai telur cacing STH meskipun kualitasnya belum sebaik eosin 2%.
Copyrights © 2025